Guru Besar UPNVJT Soroti Peran Politik Perempuan Digital Makin Krusial
Peran politik perempuan digital semakin krusial dalam demokrasi Indonesia. Guru Besar UPNVJT menyoroti bagaimana media sosial membuka ruang partisipasi lebih luas, namun tantangan inklusivitas masih ada.
Surabaya – Guru Besar Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT), Prof. Dr. Catur Suratnoaji, M.Si., menyoroti peningkatan signifikan peran perempuan dalam komunikasi politik digital. Hal ini membuka ruang partisipasi yang lebih luas dalam lanskap demokrasi Indonesia yang terus berkembang. Prof. Catur menyampaikan pandangannya ini dalam orasi ilmiah pada sidang pengukuhan guru besar di kampus UPNVJT, Surabaya, pada Sabtu (25/4).
Menurut Prof. Catur, perempuan kini tidak lagi hanya menjadi pendengar pasif dalam diskursus politik, melainkan telah bertransformasi menjadi aktor aktif. Mereka secara proaktif membangun percakapan publik di ruang digital, menunjukkan dinamika baru dalam keterlibatan politik. Fenomena ini menandai pergeseran penting dalam partisipasi sipil, di mana suara perempuan semakin terdengar dan diperhitungkan dalam arena digital.
Peningkatan peran politik perempuan digital ini menjadi indikator penting bagi kemajuan demokrasi. Media digital, khususnya media sosial, telah menyediakan platform yang memfasilitasi ekspresi pandangan dan pembentukan jaringan. Ini mendukung penguatan keterlibatan perempuan dalam proses demokrasi, meskipun masih ada beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk mencapai inklusivitas penuh.
Media Sosial Katalisator Partisipasi Politik Perempuan
Media sosial dinilai menjadi katalisator utama bagi partisipasi politik perempuan di era digital ini. Platform-platform ini menyediakan ruang publik yang lebih egaliter, memungkinkan perempuan untuk menyuarakan pandangan mereka tanpa hambatan yang mungkin ditemui di ruang fisik. Melalui media sosial, perempuan dapat membangun jaringan, berdiskusi isu-isu penting, serta memperkuat keterlibatan mereka dalam proses demokrasi secara lebih efektif.
Prof. Catur Suratnoaji menekankan bahwa perempuan kini tidak hanya menjadi objek, tetapi subjek yang aktif dalam membentuk opini publik. Mereka menggunakan media digital untuk mengangkat berbagai isu kesejahteraan sosial. Isu-isu tersebut meliputi pendidikan, ekonomi keluarga, dan kesehatan, yang seringkali memiliki dampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Partisipasi aktif ini menunjukkan bahwa media digital telah memberdayakan perempuan untuk memiliki suara yang lebih kuat dan jangkauan yang lebih luas. Ini sejalan dengan temuan bahwa media digital memberikan suara pada perempuan yang sebelumnya mungkin merasa tidak terdengar dalam lingkungan politik yang didominasi laki-laki. Kemampuan untuk meluncurkan kampanye online dan mengatasi hambatan fisik juga menjadi keunggulan media digital dalam mendorong partisipasi politik perempuan.
Tantangan Inklusivitas dan Peran Strategis Opini Publik
Meskipun terjadi peningkatan partisipasi, Prof. Catur mengingatkan bahwa masih ada ketimpangan geografis dalam aktivitas politik perempuan digital. Partisipasi perempuan cenderung lebih dominan di kota-kota besar. Hal ini disebabkan oleh akses teknologi dan literasi digital yang lebih baik di wilayah perkotaan.
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa demokrasi digital di Indonesia belum sepenuhnya inklusif. Perempuan di wilayah pinggiran masih menghadapi keterbatasan akses dan pengetahuan digital. Kesenjangan ini menjadi tantangan besar dalam upaya menciptakan partisipasi politik yang merata dan adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
Oleh karena itu, upaya pemerataan akses teknologi dan peningkatan literasi digital menjadi sangat krusial. Ini akan membantu memastikan bahwa setiap perempuan, di mana pun mereka berada, memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan menyuarakan aspirasinya dalam ruang digital.
Rekomendasi untuk Demokrasi Digital Inklusif dan Komitmen Akademik
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Prof. Catur merekomendasikan beberapa langkah penting. Pemerataan akses teknologi harus menjadi prioritas, diikuti dengan peningkatan literasi digital bagi perempuan. Selain itu, penguatan pendidikan politik digital sangat diperlukan. Ini dapat dilakukan melalui lembaga pendidikan formal, organisasi masyarakat, serta komunitas digital yang ada.
Sementara itu, Rektor UPN “Veteran” Jawa Timur, Prof. Dr. Akhmad Fauzi, menegaskan bahwa pengukuhan guru besar merupakan bagian dari komitmen universitas. Komitmen ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dosen, terutama bagi mereka yang berstatus pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). UPNVJT kini memiliki total 39 guru besar, menunjukkan kapasitas akademik yang kuat.
Prof. Akhmad Fauzi juga menekankan pentingnya riset dosen yang kuat dan berdampak nyata bagi masyarakat luas. Ia berharap penelitian yang dilakukan tidak hanya berhenti di ranah teoritis, tetapi juga mampu memberikan solusi konkret dan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa. Komitmen ini sejalan dengan upaya UPNVJT untuk terus mengembangkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sumber: AntaraNews