Fakta Unik Moon Cake Festival Singkawang: Simbol Pelestarian Budaya dan Penggerak Ekonomi Lokal
Moon Cake Festival Singkawang bukan hanya perayaan, tapi wujud nyata pelestarian budaya Tionghoa dan pendorong ekonomi UMKM. Bagaimana festival ini menyatukan tradisi dan modernitas?
Wali Kota Singkawang, Tjhui Chui Mie, menyatakan bahwa Moon Cake Festival atau festival kue bulan di kota tersebut merupakan simbol pelestarian budaya Tionghoa yang kaya warna dan makna. Festival yang berlangsung dari tanggal 3 hingga 6 Oktober ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah komitmen untuk menjaga tradisi leluhur.
Penyelenggaraan Moon Cake Festival Singkawang ini menegaskan pentingnya mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh zaman. Tradisi perayaan kue bulan sendiri secara turun-temurun digelar setiap tanggal 15 bulan 8 kalender Tionghoa, melambangkan rasa syukur, kebersamaan, dan keharmonisan keluarga di bawah sinar bulan purnama.
Selain aspek budaya, festival ini juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Kehadiran festival ini diharapkan dapat terus digalakkan, bahkan oleh paguyuban etnis lain di Singkawang, untuk menjadi daya tarik wisata berbasis budaya.
Pelestarian Budaya Tionghoa yang Penuh Makna
Wali Kota Singkawang, Tjhui Chui Mie, menegaskan bahwa Moon Cake Festival Singkawang adalah manifestasi nyata dari upaya pelestarian budaya. Menurutnya, festival ini menjadi sarana penting untuk menjaga dan mewariskan nilai-nilai tradisi Tionghoa kepada generasi penerus.
“Festival ini adalah cara kita menjaga dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tidak hilang oleh zaman,” ujar Tjhui Chui Mie. Pernyataan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan warisan leluhur.
Perayaan kue bulan memiliki akar tradisi yang mendalam, selalu diadakan pada tanggal 15 bulan 8 kalender Tionghoa. Momen ini melambangkan rasa syukur, kebersamaan, dan keharmonisan keluarga yang berkumpul di bawah terang bulan purnama, memperkuat ikatan kekeluargaan.
Dampak Ekonomi dan Pemberdayaan UMKM
Selain sebagai ajang pelestarian budaya, Moon Cake Festival Singkawang juga membawa dampak positif bagi perekonomian lokal. Wali Kota Tjhui Chui Mie menyoroti kontribusi festival terhadap pelaku UMKM di sekitar lokasi kegiatan.
“Selama seminggu, UMKM bisa memasarkan produk lokal kepada pengunjung. Ini tentu menjadi multiplier effect bagi perekonomian masyarakat,” jelasnya. Kehadiran festival ini membuka peluang bagi produk-produk lokal untuk dikenal lebih luas.
Tjhui Chui Mie juga mendorong agar kegiatan serupa dapat terus dikembangkan oleh berbagai paguyuban etnis yang ada di Kota Singkawang. Dengan 17 paguyuban yang ada, setiap kelompok memiliki potensi tradisi unik yang bisa dikemas menjadi daya tarik wisata budaya.
Sinergi Budaya, Pariwisata, dan Sosial
Ketua Panitia Singkawang Mooncake Festival 2025, Helga Abraham, menambahkan bahwa festival ini tidak hanya berfokus pada kuliner dan budaya. Berbagai kegiatan sosial turut diselenggarakan, menunjukkan dimensi kemanusiaan dari perayaan ini.
Festival ini menampilkan aneka kue bulan dan kuliner khas, namun juga menyertakan kegiatan sosial seperti akupunktur gratis dan pemberian santunan kepada anak yatim. Hal ini menunjukkan kepedulian festival terhadap masyarakat sekitar.
“Antusiasme masyarakat luar biasa. Kami berharap Moon cake Festival bisa menjadi agenda tahunan di Kota Singkawang, sebagai bentuk sinergi antara budaya, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Helga. Perpaduan nuansa budaya, hiburan, dan kegiatan sosial menjadikan Moon Cake Festival Singkawang sebagai simbol harmoni dan keberagaman kota.
Sumber: AntaraNews