Fadli Zon Dituding Lecehkan Adat saat Naik Sanggabuwana, ini Pembelaan PB XIV Mangkubumi
Kubu PB XIV Purboyo melalui kakaknya GKR Panembahan Timoer menuding tindakan tersebut sebagai bentuk pelecehan adat.
Paku Buwono (PB) XIV Mangkubumi bersama rombongan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan sejumlah kerabat Keraton Kasunanan Surakarta menaiki Panggung Sanggabuwana, usai diresmikan, Selasa (16/12).
Keputusan Fadli Zon, PB XIV Mangkubumi dan sejumlah kerabat keraton masuk dan naik ke tempat sakral tersebut menjadi pro dan kontra. Kubu PB XIV Purboyo melalui kakaknya GKR Panembahan Timoer menuding tindakan tersebut sebagai bentuk pelecehan adat.
Pengageng Sasana Wilapa menilai masuknya rombongan ke Panggung Sanggabuwana tidak lewat koordinasi dengan kubu PB XIV Purboyo. Menurut Timoer, tidak sembarang orang bisa masuk ke menara yang dianggap sakral itu.
"Setahu kami itu tempat sakral yang dipergunakan hanya untuk raja dan orang-orang yang sudah disumpah raja untuk melakukan upacara, itu saja," ucapnya.
Tuding Pelecehan
Timoer mengaku tidak menyangka bahwa Menteri Fadli Zon akan masuk ke dalam Panggung Sanggabuwana saat peresmian. Dia menuding hal itu sebagai pelecehan adat.
"Kalau yang Sanggabuwana, kami tidak diajak rembukan (diskusi) untuk masalah, mereka akan naik. Menurut saya sih itu pelecehan, pelecehan adat ya," tudingnya.
Mangkubumi Bantah
Namun Mangkubumi alias Hangabehi menolak tudingan kakaknya tersebut. Putra tertua PB XIII itu menegaskan tidak ada aktivitas yang melanggar adat dalam acara peresmian bangunan Sanggabuwana yang telah selesai direvitalisasi oleh pemerintah pusat.
"Enggak ada pelecehan adat. Enggak ada. Itu kan sudah ada sumpahnya dulu," ujar Mangkubumi saat ditemui di Masjid Agung Keraton Surakarta seusai salat Jumat (19/12).
Menurut Mangkubumi, saat dimulainya pembangunan sudah ada prosesi wilujengan (selamatan) untuk ritual minta izin ke atas," terangnya.
Cek Bangunan
Mangkubumi berdalih bahwa ia dan Fadli Zon harus masuk ke Panggung Sanggabuwana karena ada kepentingan, yakni untuk mengecek bangunan yang ada di dalam setelah revitalisasi.
"Itu kan bagian dari finalisasi peresmian. Kan harus ditinjau, yang di dalam kan juga diganti semua, didandani (diperbaiki). Kalau nggak boleh melihat ke dalam ya gimana," keluhnya.
Mangkubumi tak habis pikir dengan tudingan tersebut. Padahal pemerintah pusat salah satunya melalui Kementerian Kebudayaan sudah berbaik hati melakukan perbaikan bangunan keraton yang rusak.
"Jadi kalau kita ada peran pemerintah berdiri untuk membantu revitalisasi ini kan ya tetap dari rujukan izin toh. Yang mana semua kompleks itu sakral, tidak hanya Panggung Sanggabuwana, sebetulnya semua. Maka dari itu ya kalau ada niat dari pemerintah untuk merevitalisasi keraton ya kita utamakan, pasti bisa untuk masuk, untuk melihat kondisi yang ada di dalam, tidak hanya yang di luar, saya kira begitu saja," jelas dia.
Sebut Semua Sudah Sesuai Aturan
Mangkubumi juga menyampaikan, saat masuk ke Panggung Sanggabuwana, Menteri Fadli Zon juga sudah mengenakan beskap sesuai aturan yang ada.
"Semua sudah sesuai dengan aturannya. Pak Menteri hanya melihat hasilnya, kalau ada yang kurang kan pastinya ada yang disusulkan," katanya.
Saat ditanyakan terkait orang yang bisa masuk Panggung Sanggabuwana harus ada sumpah, Mangkubumi menegaskan dirinya sudah disumpah sejak masih menjadi pangeran.
"Saya sudah disumpah semenjak saya masih pangeran. Yang di dalam hanya melihat kondisi, yang sudah dibangun saja, sudah selesai. Nggih kan, lantai-lantainya diganti semua. Kayu-kayu yang sudah rapuh itu diganti semua. Sudah gitu saja. Pak Menteri ingin melihat hasil seperti apa," tutup dia.