Dolar Naik, Pengusaha Jatim Mulai Menjerit
Para pengusaha menilai kenaikan dolar AS tersebut tidak hanya berdampak pada meningkatnya biaya produksi, tetapi juga berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang pada Kamis (21/5) menembus level Rp17.646 per dolar Amerika Serikat mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha di Jawa Timur. Para pengusaha menilai kenaikan dolar AS tersebut tidak hanya berdampak pada meningkatnya biaya produksi, tetapi juga berpotensi menekan daya beli masyarakat serta mengancam keberlangsungan sejumlah sektor industri.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, mengatakan tekanan akibat kurs dolar kini mulai dirasakan secara nyata oleh dunia usaha, khususnya sektor industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
“Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan dampak berlapis terhadap dunia usaha dan industri nasional. Mulai dari kenaikan biaya produksi hingga melemahnya daya saing industri,” kata Adik di Surabaya, Kamis (21/5).
Kenaikan Biaya Produksi
Menurutnya, kenaikan biaya produksi menjadi dampak paling langsung akibat penguatan dolar AS. Industri nasional masih sangat tergantung pada impor bahan baku seperti besi, baja, plastik, bahan kimia, hingga komponen elektronik yang seluruh transaksinya menggunakan dolar AS.
Ia menyebut ketergantungan bahan baku impor pada industri manufaktur Indonesia masih berada di atas 70 persen. Kondisi itu membuat sejumlah sektor seperti manufaktur, farmasi, otomotif, dan tekstil menjadi yang paling terdampak oleh gejolak kurs.
Di tengah lonjakan biaya produksi, para pengusaha juga menghadapi persoalan lain, yakni tidak mudahnya menaikkan harga jual produk ke pasar. Akibatnya, margin keuntungan perusahaan mulai tergerus.
“Banyak pengusaha sekarang memilih menahan kenaikan harga dan mengurangi margin keuntungan agar produk tetap terserap pasar. Tapi kondisi ini tidak bisa berlangsung terlalu lama,” ujarnya.
Tekanan Ekonomi
Adik mengatakan tekanan ekonomi juga mulai memukul daya beli masyarakat. Harga barang yang meningkat tidak diikuti kenaikan pendapatan masyarakat, sehingga konsumsi rumah tangga berpotensi melemah.
Kondisi tersebut, kata dia, mulai membuat pelaku usaha melakukan langkah efisiensi, termasuk mengurangi impor bahan baku dan menekan kapasitas produksi. Jika situasi berlangsung berkepanjangan, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) dinilai sulit dihindari.
“Pengusaha mulai menahan stok bahan baku karena khawatir daya beli terus turun. Kalau berlangsung lama, ancaman PHK tentu akan mengintai,” katanya.
Meski demikian, Adik melihat masih ada peluang bagi produk lokal untuk bersaing lebih kuat di tengah mahalnya barang impor. Produk pertanian dan peternakan lokal dinilai memiliki momentum untuk memperluas pasar domestik.
“Produk yang benar-benar lokal justru bisa lebih kompetitif dibanding barang impor. Jawa Timur punya kekuatan besar di sektor pertanian dan peternakan karena banyak komoditas kita surplus,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan, apabila tekanan ekonomi global dan pelemahan rupiah terus berlangsung dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi daerah diperkirakan akan ikut terkoreksi.
Meminta Pemerintah Segera Mengambil Langkah
Karena itu, Kadin Jatim meminta pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk menjaga perputaran ekonomi nasional. Salah satu usulan yang disampaikan ialah realokasi anggaran dari program yang dinilai belum berdampak signifikan terhadap ekonomi langsung, seperti pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), ke sektor yang lebih mampu menyerap tenaga kerja.
“Infrastruktur bisa menggerakkan ekonomi dan menyerap tenaga kerja lebih besar. Pemerintah harus berani melakukan realokasi anggaran,” kata Adik.
Selain itu, pemerintah juga diminta memperkuat program bantuan sosial dan bantuan tunai guna menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan harga akibat kenaikan dolar AS.
“Yang paling dibutuhkan sekarang adalah menjaga daya beli masyarakat supaya konsumsi tetap bergerak dan pengusaha juga bisa bertahan,” ujarnya.
Meski dunia usaha tengah menghadapi tekanan berat, Adik mengaku tetap optimistis pemerintah memiliki strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak global.