Di Balik Kemerdekaan, Menu Sahur Bung Hatta pada Pagi 17 Agustus 1945
Pada hari yang sama, bulan Ramadan juga tiba. Sebelum kembali, Hatta menceritakan pengalaman menyantap sahur di kediaman Laksamana Maeda.
Delapan dekade yang lalu, tepatnya pada 17 Agustus 1945, Indonesia resmi memproklamirkan kemerdekaannya. Lambert Giebels, seorang penulis yang dikenal karena biografinya tentang Bung Karno, menyatakan bahwa proklamasi RI merupakan salah satu yang paling sederhana di dunia.
Pada tanggal 17 Agustus 1945, suasana menjadi sangat padat bagi para pendiri bangsa, Soekarno dan Muhammad Hatta. Sebelumnya, pada malam tanggal 16, mereka baru saja dibebaskan dari penculikan yang dilakukan oleh sekelompok pemuda radikal di Rengasdengklok. Malam itu juga, mereka melanjutkan dengan mengadakan rapat bersama wakil-wakil rakyat Indonesia di kediaman Laksamana Maeda, yang terletak di Jalan Imam Bonjol 1, Jakarta. Rapat yang membahas Proklamasi kemerdekaan tersebut baru selesai sekitar pukul 03.00 WIB dinihari.
Menjelang akhir rapat, Soekarno mengingatkan bahwa Proklamasi akan dibacakan pada pukul 10.00 WIB di rumahnya yang beralamat di Jalan Pegangsaan Timur 56. Setelah rapat ditutup, Laksamana Maeda, sebagai tuan rumah, turun ke lantai satu dari kamarnya untuk memberikan ucapan selamat kepada Soekarno dan Hatta.
Sahur Dilakukan di Rumah Laksamana Maeda
Muhammad Hatta mengenang momen sebelum dia kembali dari kediaman Laksamana Maeda pada dinihari tersebut. Dia memberikan pesan penting kepada para pemuda dan wartawan, khususnya kepada Burhanudin Muhammad Diah atau BM Diah, bahwa pekerjaan keesokan harinya akan sangat menantang.
"Saudara sehari-harinya sudah bekerja keras tetapi saudara harus meneruskan pula dengan giat pekerjaan baru, yaitu memperbanyak teks proklamasi itu dan menyebarkannya ke seluruh Indonesia sedapat-dapatnya," ujar Hatta, seperti yang dikutip dari otobiografinya yang berjudul *Untuk Negeriku* bagian *Menuju Gerbang Kemerdekaan*, yang diterbitkan oleh Kompas pada tahun 2011.
Hari itu juga bertepatan dengan bulan Ramadan. Sebelum meninggalkan rumah Laksamana Maeda, Hatta menceritakan bahwa dia sempat menikmati sahur di sana.
"Karena tidak ada nasi yang kumakan ialah roti, telur, dan ikan sardin, tetapi cukup mengenyangkan," kata Hatta. Momen tersebut menjadi salah satu kenangan berharga dalam perjalanan menuju kemerdekaan, di mana persiapan dan kerja keras sangat diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Kedatangan yang Terlambat
Setelah mengucapkan selamat tinggal dan berterima kasih kepada tuan rumah, Hatta pulang bersama Soekarno yang mengantarnya ke rumah.
"Aku baru tidur setelah melaksanakan sembahyang subuh dan terbangun sekitar pukul 08.30. Setelah mandi dan bercukur, aku bersiap untuk pergi ke Pegangsaan Timur 56 guna menghadiri pembacaan teks Proklamasi kepada masyarakat serta mengibarkan bendera Sang Merah Putih, yang akan diiringi dengan lagu Indonesia Raya," jelas Hatta.
"Sekitar pukul 09.50, aku sudah tiba di lokasi. Semua orang tahu bahwa aku selalu datang tepat waktu, sehingga tidak ada yang merasa cemas akan keterlambatanku. Soekarno pun tidak khawatir karena ia sudah mengenal kebiasaanku," tambah Hatta.
Setelah Proklamasi dibacakan dan Sang Saka Merah Putih dikibarkan sebagai tanda bahwa Indonesia telah merdeka, rakyat bersorak gembira. Hatta mengaku sempat duduk sejenak di rumah Soekarno selama kurang lebih setengah jam sebelum akhirnya pulang ke rumah dan disambut sanak saudara yang mengucapkan selamat.
"Baru lima menit aku berada di tengah keluarga, Ir Surachman datang dengan penuh emosi. Ia memelukku sambil menangis karena merasa sangat bahagia," ungkap Hatta.
Momen tersebut menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi Hatta dan keluarganya, menandai hari bersejarah bagi bangsa Indonesia.