Iran Pertimbangkan Yuan Sebagai 'Tiket Masuk' Selat Hormuz
Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah Iran menutup akses ke Selat Hormuz secara efektif mulai 1 Maret 2026.
Menurut laporan terbaru, Iran sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan sejumlah terbatas kapal tanker minyak untuk melintas di Selat Hormuz. Namun dengan syarat transaksi minyak dilakukan menggunakan mata uang yuan dari Tiongkok.
Informasi ini disampaikan oleh seorang pejabat senior Iran kepada media Amerika Serikat, dikutip CNN, pada Jumat (13/3/2026).
Kebijakan yang masih dalam tahap pertimbangan ini merupakan bagian dari upaya Teheran untuk mengatur kembali arus kapal tanker minyak yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, seperti yang dikutip dari Daily Sabah pada Senin (16/3/2026).
Secara umum, perdagangan minyak global dilakukan dengan menggunakan dolar Amerika Serikat. Namun, dalam beberapa situasi, seperti pada minyak Rusia yang terkena sanksi internasional, transaksi dilakukan dengan mata uang lain seperti rubel atau yuan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok juga berusaha untuk memperluas penggunaan yuan dalam perdagangan energi internasional, meskipun dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan utama di dunia.
Kekhawatiran akan kemungkinan gangguan pengiriman di Selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak global melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan tahun 2022, di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat di kawasan tersebut.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia, dengan sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap harinya, yang juga mencakup sekitar 20 persen dari perdagangan gas alam cair global.
Pada Jumat (13/3), PBB memperingatkan bahwa pembatasan pengiriman melalui Selat Hormuz dapat menimbulkan dampak besar, termasuk terhadap operasi kemanusiaan di kawasan yang sangat bergantung pada stabilitas jalur logistik energi dan transportasi laut.
Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah Iran secara efektif menutup akses ke Selat Hormuz sejak 1 Maret, langkah ini diambil setelah serangan gabungan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran pada 28 Februari.
Konflik yang terus berkembang ini dilaporkan telah mengakibatkan sekitar 1.300 orang tewas, termasuk di antara mereka adalah Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sejak insiden tersebut, ketegangan militer di kawasan Timur Tengah terus mengalami peningkatan yang signifikan.