H-2 Pembukaan Piala Dunia 2026, Demo Guru Guncang Stadion di Meksiko
Menjelang Piala Dunia, para guru menggelar aksi protes untuk menyampaikan tuntutan mereka. Apa saja yang menjadi suara mereka dalam demonstrasi tersebut?
Pada hari Selasa, 10 Juni 2026, ribuan guru kembali menggelar aksi demonstrasi di Kota Meksiko, bersamaan dengan persiapan negara tersebut untuk menyambut pertandingan pembukaan Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada hari Kamis mendatang.
Aksi ini dipimpin oleh kelompok yang merupakan pecahan dari serikat guru Coordinadora Nacional de Trabajadores de la Educación (CNTE), yang telah melakukan demonstrasi selama seminggu terakhir untuk menuntut peningkatan gaji dan pencabutan undang-undang pensiun.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, menilai aksi tersebut sebagai provokasi yang bertujuan untuk memberikan kesan bahwa situasi di negara itu tidak stabil. Dalam sebuah konferensi pers, Sheinbaum mengungkapkan, "Mereka ingin membuat seolah-olah ada kekacauan sosial besar-besaran di Meksiko, dan itu tidak benar," seperti yang dilansir dari France24 pada Rabu, 10 Juni.
Untuk mencegah massa mencapai Stadion Azteca, yang akan menjadi lokasi pertandingan pembukaan Piala Dunia 2026, aparat keamanan telah memasang blokade. Ribuan personel keamanan dikerahkan dan penghalang beton dipasang di sekitar stadion sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan menjelang laga perdana turnamen. Para demonstran pun berkumpul di jalan-jalan sekitar stadion selama kurang lebih tiga jam sebelum akhirnya membubarkan diri.
Kepala Keamanan Kota Meksiko, Pablo Vazquez, menyatakan bahwa aksi tersebut berlangsung damai tanpa insiden yang berarti. Meskipun diwarnai dengan demonstrasi, pemerintah memastikan bahwa pertandingan pembukaan tetap akan dilaksanakan sesuai jadwal. Sheinbaum menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menggunakan tindakan represif untuk membubarkan aksi massa dan lebih memilih pendekatan dialog dengan para guru.
Namun, hingga saat ini, upaya negosiasi belum membuahkan kesepakatan. Salah satu pengunjuk rasa, Austreberto Flores, menegaskan bahwa kelompoknya akan terus melanjutkan perjuangan hingga semua tuntutan mereka dipenuhi.
Mendirikan Tenda di Area Stadion
Selain melakukan aksi mogok, para pendidik juga mendirikan tenda-tenda protes di sekitar zona penggemar Piala Dunia yang terletak di Zocalo, alun-alun utama di Kota Meksiko. Pada tanggal 1 Juni, aparat kepolisian mengambil tindakan untuk membubarkan demonstran di lokasi tersebut dengan menggunakan peluru karet dan gas air mata.
Selanjutnya, CNTE mengumumkan rencana untuk melanjutkan aksi pada hari Kamis, yang akan melibatkan keluarga dari korban yang hilang. Mereka menuntut agar ada kejelasan mengenai kasus-kasus orang yang diduga menjadi korban penculikan atau pembunuhan oleh aparat maupun kelompok kriminal.
Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan secara bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dianggap sebagai edisi paling rumit secara logistik dalam sejarah turnamen ini. Upacara pembukaan serta pertandingan perdana yang mempertemukan Meksiko dengan Afrika Selatan diperkirakan akan disaksikan oleh jutaan pemirsa televisi di seluruh dunia.
Di sisi lain, Meksiko masih berusaha keras untuk menyelesaikan berbagai proyek infrastruktur menjelang turnamen, termasuk renovasi stasiun kereta bawah tanah dan peningkatan fasilitas di bandara utama negara tersebut.