Diduga Tipu Asuransi, RS Jiwa di Hubei Rekrut Warga Sehat Jadi Pasien Gila
Bagaimana proses seleksi pasien dilakukan di rumah sakit jiwa ini?
Sejumlah rumah sakit jiwa swasta di Provinsi Hubei, Tiongkok tengah, diduga terlibat dalam praktik merekrut individu sehat sebagai pasien untuk memanfaatkan dana asuransi kesehatan publik.
Penemuan ini terungkap melalui laporan investigasi yang dilakukan oleh media Beijing News yang diterbitkan pada awal Februari.
Investigasi tersebut menyoroti beberapa institusi psikiatri di Kota Xiangyang, yang memiliki populasi sekitar 5,3 juta jiwa. Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat lebih dari 20 rumah sakit jiwa yang berdiri di kota ini, seperti yang dilaporkan oleh SCMP pada Senin (16/2/2026).
Menurut laporan tersebut, mayoritas pasien di fasilitas swasta tidak menunjukkan adanya gangguan kejiwaan yang serius, bahkan beberapa di antaranya tidak memiliki gejala sama sekali.
Mereka mengaku tertarik untuk masuk ke rumah sakit karena tawaran "rawat inap gratis dan biaya hidup gratis."
Dalam sistem kesehatan Tiongkok, pasien biasanya menanggung sebagian biaya pengobatan, sedangkan sisanya ditanggung oleh asuransi publik. Skema inilah yang diduga disalahgunakan oleh pihak rumah sakit.
Setelah terdaftar sebagai pasien, data pribadi mereka digunakan untuk mengajukan klaim perawatan medis yang diduga telah direkayasa.
Seorang reporter yang menyamar sebagai kerabat pasien menghubungi lebih dari sepuluh pusat psikiatri di Xiangyang.
Semua pusat tersebut menyatakan bahwa pasien tidak akan dikenakan biaya medis, hanya diminta membayar sejumlah kecil untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Salah satu staf bahkan menyatakan bahwa pasien dapat tinggal "selama yang diinginkan."
Pada awal Desember, reporter tersebut menyamar sebagai perawat di Rumah Sakit Jiwa Xiangyang Hongan yang baru dibuka dan menampung sekitar 50 pasien.
Seorang perawat senior mengakui bahwa banyak penghuni tidak menunjukkan gejala berat. Beberapa pasien lansia bahkan tidak bisa bergerak sendiri dan menjadikan rumah sakit tersebut sebagai alternatif panti jompo yang lebih murah. Seorang perawat lain mengaku dirinya sendiri terdaftar sebagai pasien.
"Saya tidak perlu minum obat atau menjalani perawatan. Saya bebas keluar masuk dan tetap bekerja seperti biasa," ujarnya. Ia juga mengakui bahwa dirinya bekerja sama dengan pihak rumah sakit untuk mengelabui otoritas asuransi.
Dalam sistem penagihan rawat inap, reporter menemukan satu pasien yang terdaftar dirawat selama 90 hari dengan total biaya 12.426 yuan (sekitar USD 1.800).
Dari jumlah tersebut, hanya 500 yuan yang digunakan untuk obat-obatan, sementara lebih dari 6.000 yuan diklaim sebagai biaya untuk berbagai perawatan. Pasien tersebut mengaku hanya minum obat dan tidak pernah menerima tindakan medis tambahan.
Seorang dokter di fasilitas tersebut menyebutkan bahwa peralatan medis yang ada sangat terbatas. Meskipun demikian, sejumlah rumah sakit melaporkan kepada otoritas asuransi bahwa mereka mengenakan biaya perawatan hingga 130 yuan per hari per pasien.
Semakin banyak pasien yang dirawat dan semakin lama masa rawat inap, semakin besar klaim yang dapat diajukan. Untuk merekrut pasien, staf rumah sakit disebutkan menerima komisi antara 400 hingga 1.000 yuan per orang.
Dugaan Adanya Kekerasan ke Pasien
Investigasi juga mengungkap adanya dugaan kekerasan terhadap pasien di Rumah Sakit Jiwa Hongan.
Sejumlah perawat di rumah sakit tersebut diduga melakukan tindakan kekerasan seperti menampar, menendang, dan memukul pasien dengan menggunakan pipa air.
Praktik serupa juga dilaporkan terjadi di Rumah Sakit Perawatan Yiling yang terletak di Kota Yichang. Kedua fasilitas ini diduga menyita telepon genggam pasien serta membatasi komunikasi mereka dengan keluarga.
Beberapa pasien mengaku mengalami kesulitan saat ingin pulang. Salah satu pasien di Yiling menyatakan bahwa ia telah dirawat selama lima tahun.
“Aturannya sangat ketat. Saya tidak punya kebebasan. Rasanya seperti dipenjara,” katanya.
Pakar reformasi kesehatan yang berasal dari Shaanxi, Xu Yucai, menilai bahwa praktik-praktik semacam ini terjadi karena operasional rumah sakit jiwa yang relatif tertutup dan sulit untuk diawasi oleh publik.
Selain itu, kurangnya pemahaman pasien mengenai hak-hak mereka serta jenis perawatan yang seharusnya mereka terima semakin memperbesar peluang untuk terjadinya manipulasi.
Laporan mengenai dugaan kekerasan ini telah memicu kemarahan di kalangan publik dan telah ditonton oleh puluhan juta pengguna di media sosial Tiongkok.
Sebagai respons, otoritas kesehatan di Xiangyang dan Yichang pada 3 Februari mengumumkan bahwa mereka telah memulai penyelidikan resmi terkait dugaan pelanggaran dan penipuan tersebut.