Pekerja Indonesia belum siap menghadapi liberalisasi ekonomi di Asia Tenggara atau sering disebut masyarakat ekonomi Asean (MEA) bakal digulirkan awal tahun depan. Sebab, produktivitas pekerja Tanah Air dinilai masih rendah ketimbang negara tetangga.
"Tingkat upah masih rendah, jauh di bawah Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina. Bagaimana produktivitas bisa tinggi kalau upahnya murah?" kata Presiden konfenderasi Serikat pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, di Jakarta, kemarin.
Saiq menambahkan latar belakang pendidikan jadi salah satu alat ukur ketertinggalan pekerja Indonesia saat ini. Dia mendorong kembali menggalakkan program pendidikan wajib sekolah hingga sekolah menengah atas (SMA).
"Data dari BPS, tingkat pendidikan buruh Indonesia 70 persen itu SMP ke bawah, bagaimana mungkin dengan pendidikan seperti ini buruh bisa bersaing. Oleh karena itu pemerintah harus dorong pendidikan wajib belajar 12 tahun atau sampai SMA. Jadi kalau melihat kesiapan Indonesia, masih jauh," katanya.
Hal ini, lanjut Said bakal kian mendorong pekerja asing ataupun para pemilik modal enggan melirik tenaga-tenaga pekerja lokal.