Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan pengoperasian Kereta api Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta Tangerang. Untuk dua bulan pertama, berlaku tarif promo KA Bandara sebesar RP 70.000, selanjutnya berlaku tarif normal KA Bandara yang ditetapkan operator sebesar Rp 100.000.
Tak hanya pengamat, sejumlah penumpang pun merasa keberatan dengan tarif yang diberlakukan. Salah satu penumpang KA bandara, Artada menilai tarif ini masih lebih mahal dibandingkan dengan transportasi bandara lainnya.
Artada menjelaskan, ongkos KA Bandara yang terlalu jauh dengan damri yang hanya Rp 40.000 bisa membuat penumpang tetap naik damri terutama yang rumahnya jauh dari stasiun.
"Kalau yang rumahnya jauh dari stasiun harus naik KRL dulu atau naik moda transportasi lain dulu ribet bawa koper pasti lebih milih naik bus damri," kata Artada saat ditemui di Stasiun Sudirman Baru, Jakarta, Selasa (2/1).
Dia meminta agar pihak pengelola bisa menurunkan tarif yang lebih efisien. Mengingat, kereta bandara ini menjadi langkah pemerintah untuk mengurai kemacetan, dengan mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi massal.
Sebelumnya, Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai PT Kereta Api Indonesia (KAI) wajib memperhatikan besaran harga tiket kereta Bandara Soekarno-Hatta. Ini agar rendahnya tingkat keterisian kereta Bandara Kualanamu tak terulang.
"Pengelola KA Bandara harus flexible dan kreatif," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (26/12).
Menurutnya, KAI harus memetakan target pasar kereta Bandara Soekarno-Hatta. Jika mengincar para pekerja, maka perlu diterapkan skema tarif langganan.
Sementara, KAI juga harus memberikan tarif khusus pada penumpang rombongan. Sebab, penumpang rombongan biasanya lebih memilih mobil sewa atau taksi jika ingin menuju bandara.
Djoko mengakui jika KAI tidak bisa hanya mengandalkan tarif untuk mengembalikan modal pembangunan dan menutup biaya operasional. Maka dari itu, KAI perlu memanfaatkan aset seputaran operasional kereta.
"Belajar dengan jalur monorel KL di Malaysia, semua stasiun dan sarana kereta dibranding untuk menambah pemasukan."