Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Peneliti Beberkan Alasan Indonesia Masih Butuh Impor Jagung

Peneliti Beberkan Alasan Indonesia Masih Butuh Impor Jagung Ilustrasi impor jagung. shutterstock

Merdeka.com - Peneliti dari Visi Teliti Saksama, Nanug Pratomo, mengatakan keputusan impor jagung yang dilakukan pemerintah selama ini sudah tepat. Sebab, produksi jagung yang dihasilkan dari para petani jagung dalam negeri masih memiliki kelemahan.

"Selama ini kita liat jagung yang dihasilkan domestik ini masalah kadar air lebih dari 15 persen. Kedua adalah soal harga yang sering kali masih dinilai terlalu tinggi. Industri pakan selama ini dan juga para peternak itu mengeluhkan harga jagung yang masih tinggi," ujarnya dalam sebuah diskusi yang digelar di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/1).

Namun, dia juga mengatakan, harga jagung pakan domestik yang tinggi tersebut juga tidak terlepas dari rantai pasok yang panjang. Mulai dari petani, kemudian dikumpulkan kepada para pengepul, lalu masuk ke pedagang besar, pengecer, hingga ke konsumen.

"Panjangnya rantai distribusi ini lah yang jadi penyebab kenapa harga jagung sangat fluktuatif dan dinilai menjadi tinggi. Ini jadi PR kita kalau bener-bener mau swasembada jagung," kata Nanug.

Selain itu, dia memprediksi produksi dalam negeri hingga 2029 mendatang diperkirakan akan mencapai 30 juta ton. Sementara, permintaan domestik sendiri mencapai 50 juta ton, sehingga permintaan dalam negeri masih belum tercukupi dan masih perlu impor.

"Produksi jagung kita mulai 2014 sampai 2018 memang beberapa tahun terakhir ini trennya alami peningkatan tapi persoalannya bisa penuhi kebutuhan dalam negeri atau tidak. Makanya kita butuh impor jagung," pungkasnya.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP