Kementerian Perhubungan kembali mengkaji dokumen studi kelayakan kereta cepat Jakarta-Bandung. Kali ini, pemerintah akan mengkaji soal trase kereta cepat, yakni Gambir-Bandung.
Direktur Jenderal Perekeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto Dwiatmoko mengatakan kemenhub berencana akan membangun terowongan dari stasiun Gambir ke Halim, ini dilakukan untuk menekan biaya operasional. Maklum saja, dibutuhkan dana sekitar Rp 12 triliun untuk berjarak 12 kilometer (km) antara Gambir ke Halim.
Pembangunan terowongan sepanjang satu kilometer saja memakan biaya sekitar Rp 1 triliun. "Kalau memang benar seperti itu, Rp70 triliun (total investasi) dikurangi saja Rp 12 triliun," kata dia seperti dilansir Antara, Jakarta, Rabu (10/2).
Hermanto mengatakan secara teknis, trase yang telah diberikan izin oleh Kemenhub, yakni Halim-Tegalluar. Trase jalur KA Cepat Jakarta-Bandung sendiri memiliki panjang 142,3 kilometer, terdiri dari empat stasiun, yakni Halim, Karawang, Walini, dan Tegalluar, dan satu dipo di Tegalluar.
Kereta Cepat Jakarta-Bandung memakan biaya investasi sekitar Rp 70 triliun dan diperkirakan bisa beroperasi pada 2019.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China Hanggoro Budi Wiryawan mengatakan pihaknya akan merevisi studi kelayakan dan setidaknya membutuhkan waktu satu bulan sebelum diserahkan kepada Kemenhub.
Hanggoro tidak menampik adanya potensi pengurangan investasi, namun ia belum mau menyebutkan nilainya. Terkait perubahan studi kelayakan, dia pun akan merekrut konsultan independen.