Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tak mengkhawatirkan komitmen investasi Arab Saudi di China lebih besar ketimbang Indonesia. Sebab, realisasi investasinya belum tentu sebesar nilai yang dijanjikan."Itu kan baru rencana, baik di Indonesia maupun China. Realisasinya berapa kita tak tahu," kata Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal Azhar Lubis di Kantornya, Jakarta, Selasa (18/4).Kendati demikian, menurut Azhar, kejadian ini harus menjadi peringatan Indonesia agar segera merealisasikan kerja sama investasi yang sudah disepakati dengan Negeri Petrodolar. Bagaimana caranya?"Korporasi Indonesia harus aktif dan agresif. Semisal Pertamina harus segera mewujudkan pembangunan kilang dengan Saudi Aramco. Kalau sekedar komitmen, tidak akan jadi apa-apa," katanya."Realisasi investasi lah yang memproduksi barang dan jasa, menyerap tenaga kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi."Seminggu lalu, saat di Cirebon, Presiden Joko Widodo mengutarakan kekecewaannya lantaran Arab Saudi berinvestasi lebih besar di China ketimbang Indonesia."Saya sedikit kecewa. Investasi yang diberikan Saudi Rp 89 triliun memang besar sekali, saat itu saya kaget. Tapi saya lebih kaget saat beliau (Raja Salman) ke ke China. Beliau tanda tangan Rp 870 triliun."
Jokowi kecewa Saudi lebih obral investasi ke China, ini respons BKPM
Jokowi kecewa Saudi lebih obral investasi ke China, ini respons BKPM. BKPM tak mengkhawatirkan komitmen investasi Arab Saudi di China lebih besar ketimbang Indonesia. Sebab, realisasi investasinya belum tentu sebesar nilai yang dijanjikan.
Baca Juga
Banjir di China Sebabkan 900 Ular Lepas
Rekomendasi