Ini penyebab harga gas tak turun sesuai permintaan Jokowi

Kepala Divisi Komersialisasi Gas Bumi SKK Migas, Sampe L Purba mengatakan, kunci dalam menurunkan harga gas berada di pelaku distribusi. Jika mereka bisa melakukan efisiensi maka harga gas bisa sesuai permintaan Presiden Joko Widodo di USD 6 per MMBTU.

Bimo Pratomo
Oleh Bimo Pratomo - Reporter
Ini penyebab harga gas tak turun sesuai permintaan Jokowi
Pipa gas di Bekasi. ©2016 Merdeka.com

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membeberakan alasan masih mahalnya harga gas di tingkat konsumen. Salah satu penyebabnya adalah sistem niaga gas Indonesia yang masih menggunakan pihak ketiga atau distributor.

Perusahaan Gas Negara (PGN) dan Pertagas merupakan beberapa pemain besar dalam sistem distribusi gas Indonesia.

Kepala Divisi Komersialisasi Gas Bumi SKK Migas, Sampe L Purba mengatakan, kunci dalam menurunkan harga gas berada di pelaku distribusi ini. Jika mereka bisa melakukan efisiensi maka harga gas bisa sesuai permintaan Presiden Joko Widodo di USD 6 per MMBTU.

"Dari hulu sudah ada yang USD 6 bahkan di bawah posisi itu. Namun, saat sampai di pengusaha bisa USD 12 contohnya," ujar Sampe saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Kamis (16/2).

Sampe melanjutkan, komponen biaya dalam proses distribusi seperti pengapalan, regasifikasi, transmisi, dan distribusi. Komponen itulah yang membuat harga gas saat di pemakai menjadi mahal atau di atas USD 6.

"Kalau mau turun maka diperlukan efisiensi di aspek ini," tuturnya.

Rekomendasi