Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menuding rencana Pemerintah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) hanya untuk menutupi kerugian PT Pertamina (Persero) yang mencapai Rp 12 triliun. Menurut dia, kerugian Pertamina bukan karena penjualan Premium tetapi adanya kesalahan manajemen.
"Kita tidak ingin ketika pemerintah merubah harga BBM, itu mengkaitkan dengan kerugian Pertamina. Karena itu adalah miss management, korupsi, tata kelola yang tidak baik, sistem distribusi yang panjang, masih impor yang berlebihan, tidak membangun kilang baru, itu kesalahan management, itu mengakibatkan kerugian," ujar Said kepada wartawan saat acara catatan akhir tahun di Jakarta, Rabu (23/12).
Said menegaskan pemerintah dan Pertamina saat ini tengah membebankan kerugian korporasi ke masyarakat dengan menjual harga Premium yang tinggi. "Karena itu kita minta berapa pun nanti diturunkan dikaitkan dengan masih adanya kerugian pertamina," tegas dia.
Selain itu, lanjut Said, pemerintah harusnya tetap memberikan subsidi kepada masyarakat meskipun adanya penurunan harga yang akan diumumkan di Istana Kepresidenan, Jakarta. Selama ini, pemerintah selalu berdalih BBM subsidi dikonsumsi oleh orang-orang kaya. Sikap ini, kata dia, provokatif dan rasis harusnya semua strata sosial masyarakat tak dijadikan alasan mencabut subsidi.
"Orang kaya bayar pajak mahal, wajar dapat perlakuan yang sama dengan orang miskin, orang miskin juga harus dijaga. Faktanya ada 86 juta pengguna sepada motor. Tidak mungkin orang kaya yg gunakan BBM saja," pungkas dia.