Berkat investasi China, RI akan jadi negara tiga besar produsen baja
Merdeka.com - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Trikasih Lembong menilai program hilirisasi yang digaungkan pemerintah sudah cukup berhasil. Hal ini dapat dilihat dari besarnya investasi di bidang industri pengolahan dan pemurnian (smelter) minerba serta baja tahan karat (stainless steel).
"Sekarang saya kira bagian dari pada hilirisasi tambang mineral paling maju adalah nikel dan terus terang investasi terbesar saat ini dan saya perkirakan ke depan adalah dari China," kata Thomas, di Kantor BKPM, Jakarta Pusat, Rabu (26/4).
Berkat besarnya investasi dari China di bidang pemurnian nikel, Indonesia sebentar lagi menurut Thomas akan menjadi negara tiga besar sebagai produsen stainless steel. "Jadi ini menunjukkan kesuksesan dari pada program hilirisasi mineral dari era SBY ke era Jokowi dan ini tentunya suatu proses yang akan terus kita kawal, terus kita fasilitasi dan tentunya kita dorong," ujar Thomas.
Industri smelter nikel ini paling banyak berada di Sulawesi. Selain China, investor terbesar kedua adalah Korea Selatan. Kedua negara tersebut berinvestasi sangat besar dikarenakan membangun pabrik di tempat yang bahkan belum masuk listrik.
"Di sini dana itu besar-besar karena membangun tempat dan pelabuhan sendiri. Membangun pembangkit listrik sendiri dan membangun perumahan karyawan sendiri," terangnya.
Thomas memperkirakan, proses hilirisasi ini akan terus berkembang dan merambah ke segmen-segmen yang lain di logam-logam industri dan logam-logam mulia.
"Industri logam mulia berkembang pemurnian dan penambangan emas sebagai penghasil devisa berkat investasi dari Australia. Saya kira akan berkembang," tandas Thomas.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya