6 Penyebab wirausaha Indonesia kalah dengan Malaysia

Reporter : Idris Rusadi Putra | Senin, 12 November 2012 10:17




6 Penyebab wirausaha Indonesia kalah dengan Malaysia
Wakil Presiden Boediono. Merdeka.com

Merdeka.com - Wakil Presiden RI Boediono menyebutkan jumlah wirausaha di Indonesia secara kuantitas masih kalah dibandingkan Malaysia, Singapura dan Thailand. Boediono menyebutkan jumlah wirausaha Indonesia baru 1,65 persen dari jumlah penduduk, sedangkan di Malaysia mencapai 4 persen, Thailand 4,1 persen, dan Singapura 7,2 persen.

"Ini menyangkut kuantitas saja, sangat penting kita melihat kualitas. Potensi dan kandidat wirausaha kita lebih dari itu, misalnya yang informal juga banyak. Mereka yang berusaha dengan berisiko sendiri. Kalau untung dia untung, kalau rugi dia rugi sendiri," ungkap Boediono di Pembukaan Global Enterpreneur Week di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (12/11).

Mantan Gubernur Bank Indonesia ini menyebutkan setidaknya ada 6 faktor yang menghambat perkembangan wirausaha di Indonesia.

Pertama adalah masalah aturan atau kejelasan regulasi. Menurut Boediono ketidakjelasan aturan dan aturan main membuat orang malas untuk berwirausaha."Kalau daerah manapun walaupun di luar negeri kalau masalah keamanan terganggu aturan main tidak jelas gangguan macam-macam seperti pungli akan mengganggu," jelasnya.

Masalah kedua adalah masalah kestabilan ekonomi makro. Menurut Boediono kestabilan ekonomi makro sangat menentukan niatan penciptaan wirausaha. Sebab, jika ekonomi makro gonjang ganjing, juga terlalu berisiko untuk berwirausaha.

"Ini adalah peran BI untuk menentukan dan menjaga kestabilan makro. Sekarang memang kita dikritik terlalu konservatif, tapi sikap prudent konservatif ini adalah strategi terbaik saat ini," ucapnya.

Kemudian masalah yang ketiga yang menghambat perkembangan wirausaha adalah pertumbuhan infrastruktur. Infrastruktur sangat berdampak pada wirausaha karena ini berkaitan dengan biaya transaksi.

"Infrastruktur berdampak pada mudah atau tidaknya berkembang bisnis wirausaha. Di Indonesia untuk investasi di luar perkotaan yang pertama dilihat adalah ada atau tidak infrastruktur dasar yang memadai. (Itu) mempengaruhi biaya bisnis yaitu biaya transaksi," jelasnya.

Masalah yang keempat menurut Boediono adalah masalah regulasi. Regulasi ini termasuk regulasi nasional maupun regulasi daerah. Menurut Boediono , semenjak adanya otonomi daerah banyak aturan yang mempengaruhi pengembangan wirausaha di daerah.

"Otonomi daerah berkembang banyak sekali aturan yang mempengaruhi wirausaha di daerah," jelasnya.

Kemudian masalah yang kelima adalah masalah perbankan. "Bahwa tersedianya layanan financial services, bagi bisnis besar maupun mikro. Ini sangat penting mempengaruhi ruang selanjutnya. Kita akan carikan jalan keluar dalam financial inclusion. Misalnya sektor informal yang perlu kita kembangkan," tambahnya.

Sementara masalah yang keenam atau penghambat perkembangan wirausaha yang terakhir adalah tenaga kerja. Tenaga kerja yang terlatih akan mengembangkan usahanya dengan efektif. Menurut Boediono donesia/b/boediono/">Boediono menyebutkan jumlah wirausaha di Indonesia secara kuantitas masih kalah dibandingkan Malaysia, Singapura dan Thailand. Boediono menyebutkan jumlah wirausaha Indonesia baru 1,65 persen dari jumlah penduduk, sedangkan di Malaysia mencapai 4 persen, Thailand 4,1 persen, dan Singapura 7,2 persen.

"Ini menyangkut kuantitas saja, sangat penting kita melihat kualitas. Potensi dan kandidat wirausaha kita lebih dari itu, misalnya yang informal juga banyak. Mereka yang berusaha dengan berisiko sendiri. Kalau untung dia untung, kalau rugi dia rugi sendiri," ungkap Boediono di Pembukaan Global Enterpreneur Week di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (12/11).

Mantan Gubernur Bank Indonesia ini menyebutkan setidaknya ada 6 faktor yang menghambat perkembangan wirausaha di Indonesia.

Pertama adalah masalah aturan atau kejelasan regulasi. Menurut Boediono ketidakjelasan aturan dan aturan main membuat orang malas untuk berwirausaha."Kalau daerah manapun walaupun di luar negeri kalau masalah keamanan terganggu aturan main tidak jelas gangguan macam-macam seperti pungli akan mengganggu," jelasnya.

Masalah kedua adalah masalah kestabilan ekonomi makro. Menurut Boediono kestabilan ekonomi makro sangat menentukan niatan penciptaan wirausaha. Sebab, jika ekonomi makro gonjang ganjing, juga terlalu berisiko untuk berwirausaha.

"Ini adalah peran BI untuk menentukan dan menjaga kestabilan makro. Sekarang memang kita dikritik terlalu konservatif, tapi sikap prudent konservatif ini adalah strategi terbaik saat ini," ucapnya.

Kemudian masalah yang ketiga yang menghambat perkembangan wirausaha adalah pertumbuhan infrastruktur. Infrastruktur sangat berdampak pada wirausaha karena ini berkaitan dengan biaya transaksi.

"Infrastruktur berdampak pada mudah atau tidaknya berkembang bisnis wirausaha. Di Indonesia untuk investasi di luar perkotaan yang pertama dilihat adalah ada atau tidak infrastruktur dasar yang memadai. (Itu) mempengaruhi biaya bisnis yaitu biaya transaksi," jelasnya.

Masalah yang keempat menurut Boediono adalah masalah regulasi. Regulasi ini termasuk regulasi nasional maupun regulasi daerah. Menurut Boediono , semenjak adanya otonomi daerah banyak aturan yang mempengaruhi pengembangan wirausaha di daerah.

"Otonomi daerah berkembang banyak sekali aturan yang mempengaruhi wirausaha di daerah," jelasnya.

Kemudian masalah yang kelima adalah masalah perbankan. "Bahwa tersedianya layanan financial services, bagi bisnis besar maupun mikro. Ini sangat penting mempengaruhi ruang selanjutnya. Kita akan carikan jalan keluar dalam financial inclusion. Misalnya sektor informal yang perlu kita kembangkan," tambahnya.

Sementara masalah yang keenam atau penghambat perkembangan wirausaha yang terakhir adalah tenaga kerja. Tenaga kerja yang terlatih akan mengembangkan usahanya dengan efektif. Menurut Boediono

[rin]
Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman

KUMPULAN BERITA
# Top List# Wirausaha

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG
LATEST UPDATE
  • Kesal, ibu aniaya anak tiri berusia 2 tahun hingga tewas
  • Menteri Tedjo soal jenderal PBB gadungan: Mereka cuma cari duit
  • Di Bali nanti, Ical harus jelaskan soal kesepakatan Munas 2015
  • 'TKI digantung, kenapa kapal Malaysia tak boleh ditenggelamkan?'
  • Akbar: Ical dan Agung sepakat Munas Golkar digelar 2015
  • Menkum HAM tunggu hasil Munas untuk sahkan kepengurusan Golkar
  • 5 Juta buruh diklaim bakal mogok nasional 10-11 Desember
  • 6 Motor sport ini bebas dibetot tanpa bolak balik ke SPBU
  • Mantan Menteri pun suka dengan ceramah Pipik Dian Irawati
  • 7 Jam diperiksa, pendiri Demokrat dicecar gratifikasi Sutan
  • SHOW MORE