Aktor sekaligus model Fauzi Baadilla memberanikan mengikuti misi kemanusiaan yang kedua kalinya bersama ACT atau Aksi Cepat Tanggap. Kali ini petualangannya ke Suriah menjadi yang paling menegangkan.
Pria yang akrab disapa Oji ini merasa tegang dan terancam. Baru memasuki wilayah perbatasan, sudah disambut dengan ledakan bom. Ingin tahu potret Fauzi Baadilla di zona merah Suriah? Berikut ulasannya.
Advertisement
Pengalaman berharga tak terlupakan bagi Fauzi Baadila pada Kamis (09/01/2020). Semenjak menerima ajakan untuk misi kemanusiaan, dia merasa ada ketakutan dan pikiran campur aduk perihal kematian. Apalagi dengan kekhawatiran dari ibundanya.
"Mas Ozi mau ikut lagi nggak? Dengan cepat saya jawab, iya mau-mau. Semenjak telepon itu, pikiran yang masuk ke dalam otak saya itu macam-macam," kata Fauzi dilansir dari channel YouTube Aksi Cepat Tanggap.
"Malam menjelang masuk area Suriah bos. Dimana ini area perang, area keras, nggak peduli lu siapa. Kematian bisa datang kapan saja, rudal, bom itu datangnya nggak pakai permisi," imbuhnya.
Advertisement
Turki menjadi pendaratan pertama Fauzi, terletak di utara Suriah. Bertemu dengan para relawan asal Indonesia yang telah tinggal cukup lama di Turki. Menikmati sarapan pertama, Fauzi bahagia mendengar kabar berita mengenai gencatan senjata.
"Bangun pagi kita sarapan, ada berita gembira di TV. Putin dan Erdogan bertemu katanya, berarti kan ada sesuatu yang baik gitukan. Temen gue yang bisa terjemahin ini si mas Daus ini," ujar Fauzi.
"Wah gencatan senjata katanya, gencatan senjata. Wah gencatan senjata, Alhamdulillah bos Alhamdulillah. Ada gencatan senjata sebelum kita masuk, wah itu langsung das PD naik lagi, tenang. Happy itu happy mental naik," imbuhnya.
Advertisement
Rencana hari itu Fauzi bersama tim akan menuju setiap titik-titik pengungsian. Mereka masih berada di Kota Reyhanli dekat pintu perbatasan.
"Beberapa saat lagi saya dan teman-teman dari relawan Aksi Cepat Tanggap mau memasuki wilayah Idlib, Suriah," kata Fauzi.
"Jadi sekarang kita ada di Kota Reyhanli. Ini ibaratnya sudah di daerah perbatasan. Untuk ke pintu perbatasan saja itu cuma sekitar 15 menit. Dan nanti kita akan langsung ke dalam Suriah di Provinsi Idlib. Itu ke titip-titik pengungsian cuma maksimal sekitar 1 jam," papar Daus.
Advertisement
Seluruh paspor ditinggal di pintu perbatasan dan ditukar dengan surat tertentu yang berlaku selama 3 hari selama Fauzi dan tim berada di wilayah zona merah Suriah. Hendak memasuki wilayah Idlib, tiba-tiba mereka disambut dengan ledakan bom di sebelah kiri.
Bingung dan takut mulai menyelimuti Fauzi, terkait gencatan senjata. Ternyata sebelum tengah malam tiba, masih ada lemparan bom di beberapa titik.
"Kita cuma punya waktu 2 malam, 3 siang. Paspor kita ditahan, jadi kita saat itu ini. Gue jadi manusia tanpa paspor bos," ucap Fauzi.
"Saat kita di jalan ini, di jalan tolnya ini. Di sebelah kiri di kejauhan ada bom baru meledak. Katanya gencatan senjata. Iya gencatan senjata, tapi nanti malam jam 12. Jam 12 malam baru gencatan senjata, men, ngedrop lagi men. Mental gue tiarap lagi iya nggak. Gue juga manusiawi lah lihat kaya gitu takutlah," tambahnya.
Advertisement
Fauzi merasa terenyuh melihat banyak gedung bertingkat yang sudah tak layak pakai. Setiap sudut ruangan telah berlubang akibat ledakan bom beberapa tahun silam.
"Kanan kiri yang saya lihat, bangunannya banyak yang hancur. Sebagian besar masyarakatnya lebih banyak di tenda-tenda. Dan di sini ada 3,5 juta pengungsi," ucap Fauzi.
"Gue lihat kanan kiri bolong-bolong, gedung bolong semuanya banyak yang bolong. Itu sudah nggak enak hawanya. Ini lebih mencekam daripada film-film," imbuhnya.
Advertisement
Pemberhentian pertama Fauzi dan tim ACT di apartemen dekat dengan tenda-tenda pengungsian. Sebuah gedung yang telah dibangun sejak 2018 masih berdiri kokoh, hasil uang relawan dari Tanah Air.
Sayangnya untuk sanitasi masih sangat susah. Tak ada air bersih mengalir. Kebahagiaan terpancar dari setiap wajah anak pengungsi yang melihat Fauzi membawa persediaan air untuk membilas.
"Baru sebagian kecil doang yang tinggal di apartemen itu. Saya ngobrol lagi kalau di bom lagi gimana? Ya sudah mau gimana lagi, resiko, aduh hidup cuma gitu-gitu saja iya nggak. Antara terpal atau bangunan. Tapi kalau bangunan jadi bom ya sudah kelar balik ke terpal lagi," papar Fauzi.
Advertisement
Rasa haru semakin dirasakan oleh Fauzi saat menyapa anak-anak pengungsian. Dia heran semuanya ramah, serta sering mendoakan kebaikan. Hal itu mereka sampaikan pada siapa saja, termasuk ke sesama teman bermain.
"Orang di sana beda, orang di sana nggak kaya orang di belahan bumi lain. Mereka selalu Assalamuallaikum, selalu ngasih salam Assalamuallaikum. Ngobrol sedikit, langsung ngedoain, itu agak bikin gue terharu ya," ungkap Fauzi.
Advertisement
Saat-saat menegangkan kembali mendatangi Fauzi dan tim ACT. Tatkala membagikan makanan dan air bersih pada seluruh pengungsi Suriah, tiba-tiba nampak pesawat tempur berputar-putar di atas mereka.
Fauzi mengaku berubah layaknya orang bodoh yang kebingungan. Momen pertamanya melihat pesawat tempur hendak melempar rudal entah kemana. Dia hanya mampu mengucap dua kalimat syahadat sekian kali.
"Terima kasih para sahabat dermawan atas kemurahan hatinya. Ini bukti donasi dari sahabat dermawan semua sudah disampaikan. Alhamdulillah keluarga mereka baru saja menerima bantuan. Semoga bisa meringankan penderitaan mereka," papar Fauzi.
"Tiba-tiba ini ada pesawat tempur bos, keliling-keliling lagi nyari tempat dimana dia mau menjatuhkan rudal. Ada pesawat di atas, ada asap, mudah-mudahan nggak terjadi apa-apa," jelasnya.
"Di situ badan gue agak-agak malfunction. Langsung bego, gue bego skeetika gitu. Yang gue cuma bisa cuma syahadat," tutupnya.
Advertisement
Berikut video detik-detik menegangkan saat Fauzi Baadila menjalankan misi kemanusiaan di zona merah Suriah.