Karier Cemerlang Mayjen TNI Dudung Kini Jadi Pangdam Jaya, Dulu Pernah Jual Klepon

Posisi yang ditinggalkan oleh Mayjen TNI Eko, selaku Pangdam Jaya akan diisi oleh Gubernur Akmil, Dudung Abdulrahman.

Kurnia Azizah
Oleh Kurnia Azizah - Reporter
Karier Cemerlang Mayjen TNI Dudung Kini Jadi Pangdam Jaya, Dulu Pernah Jual Klepon
Mayjen TNI Dudung Kini Jadi Pangdam Jaya. Channel YouTube KOMPASTV ©2020 Merdeka.com

Mayjen TNI Dudung Abdurachman sukses mewujudkan mimpinya. Terlahir dari keluarga sederhana, tak menyurutkan semangat juang untuk meraih cita-cita masuk Akademi Militer.

Belum lama ini, Dudung termasuk dalam gerbong mutasi perwira tinggi. Dudung sebagai Gubernur Akmil kini dipercaya menggantikan posisi Mayjen TNI Eko selaku Pangdam Jaya yang dipromosikan sebagai Pangkostrad.

Siapa sangka, dia sempat mengalami beberapa peristiwa mengharukan, hingga dipukul seorang prajurit, yang justru membangkitkan semangat menjadi seorang prajurit TNI. Simak kisahnya berikut ini.


Berasal dari keluarga sederhana, secara tidak langsung menuntut dirinya untuk membantu orang tua mencari nafkah. Sejak kanan-kanan, Dudung membantu sang ibu mengantar kue tradisional ke kantin Kodam Siliwangi setiap hari.

"Ibu itu sudah beres bikin makanan yang siap dikirim. Salah satunya itu ada pastel, kemudian kue klepon. Saya antar ke kodam Siliwangi. Saya antar ke kantin," kata Mayjen Dudung dilansir dari kanal YouTube KOMPASTV.

Hal yang masih dikenang oleh sang mantan Gubernur Akademi Militer ini, ialah pengalaman pilu yang berkaitan dengan prajurit TNI. Kue klepon yang diantarnya ke kantin, pernah ditendang seorang Tamtama hingga jatuh ke tanah.

"Jadi saya antar ke Kodam 3 Siliwangi, saya antar ke kantin, karena saya sudah biasa. Karena yang jaga mungkin tamtama baru, dia belum kenal. Padahal saya tiap hari antar kue. Ditendangnya klepon itu. Akhirnya 55 bubar semua itu, pada glindng-glinding. Saya balik lagi minta ke ibu diganti baru," kenang Dudung.


Semenjak pengalaman pilu tersebut, Dudung tak merasa berkecil hati. Melainkan, terbangkitnya semangat untuk mengapai cita-cita menjadi petinggi TNI seperti saat ini.

"Dari situ saya mulai bangkit. Mulai, awas nanti saya bilang. Saya jadi perwira nanti. Di situlah saya mulai ada cita-cita pengen jadi perwira," ucap Dudung.

Tahun 1981, Dudung yang masih duduk di kelas 2 SMP harus rela melepas kepergian ayahanda ke pangkuan Sang Pencipta. Demi mencukupi delapan anak, ibunda Dudung memilih berjualan.

"Setelah bapak nggak ada, ibu berjualan kue. Ibu berjualan kue, kerupuk masih mentah, terasi, saya harus nyari kayu bakar di sekitar dekat rumah. Karena kita masak pakai kayu bakar. Saya keliling di rumah-rumah jualan kue," ujar Dudung.

Keseharian Dudung mengantar kue dan makanan tersebut sempat membuatnya malu pada teman-temannya kala itu. Sebagian besar anak seusianya menikmati masa kursis dan lebih mementingkan belajar.

Sedangkan dirinya justru membantu sang ibu membawa jualan di dalam bungkusan kain. Nyalinya yang ciut saat bertemu teman-teman, membuatnya kerap bersembunyi di balik pohon.

"Saya kan cuma antar kue pakai taplak dengan piring. Saya pas ketemu mereka, saya sembunyi di pohon. Pas mereka lewat, saya jalan lagi. Sering terjadi itu," ucapnya.


Meski harus membantu sang ibu berjualan makanan, namun semangat Dudung untuk terus belajar tidak pernah padam. Dirinya selalu belajar usai mengantar kue jualan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

"Saya pulang, setelah antar-antar makanan. Setelah itu saya baru belajar bantu-bantu ibu di rumah. Jadi yang nyuci pakaian dan nyuci piring, termasuk saya," papar Dudung.

Tidak hanya membantu sang ibu untuk berjualan, Mayjen TNI Dudung juga sempat menjadi loper koran di masa SMA. Setiap harinya ia perlu pergi ke Cikapundung untuk mengambil koran dan mengantarnya ke beberapa pelanggan setiap pagi sebelum berangkan sekolah.

"Jadi saya ikut nganter koran waktu itu, yang punya koran itu pak Mulyono, jadi saya ikut. Jam setengah empat pagi saya udah ke Cikapundung ngambil koran, kemudian saya antar koran," papar Dudung.

"Sebelum saya antar ke pelanggan, saya baca-baca dulu itu. Setelah saya tahu perkembangan, saya tahu situasi dan segala macam isi koran itu," imbuhnya.

Sebuah pengalaman bersama TNI yang masih dikenangnya pula. Dudung yang kala itu merasa bersalah sebab telat dan menjatuhkan koran, pernah menerima pukulan dari seorang Mayor TNI.

"Ada koran waktu itu saya terlambat, sampai ditabok sama ada Mayor Kavaleri itu. Koran itu jatuh, kemudian agak kotor. Pas saya kasih, ditabok, sudah itu pengalaman," kenang Dudung.

Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman merupakan seorang perwira tinggi TNI Angkatan Darat. Sejak 24 September menjabat sebagai Gubernur Akmil. Pria berusia 54 tahun ini merupakan putra dari pasangan Bapak Nasuha dan Ibu Nasyati.

Usai lulus SMA, Dudung memutuskan untuk mendaftar Akabri Darat yang perlu pendidikan hingga tahun 1988. Pendidikan tersebut membuatnya menerima pangkat Letnan Dua.

Sebelum menjabat sebagai Gubernur Akmil dan Pangdam Jaya, Dudung pernah menduduki posisi Waaster Kasad pada tahun 2017 hingga 2018. Akhirnya kini, melalui Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/588/VII/2020 tertanggal 27 Juni 2020. Mayjen Dudungmenjabat sebagai Pangdam Jaya TNI.

Rekomendasi