Presiden Joko Widodo menggunakan kaus kuning saat berolahraga dan berbincang dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Kebun Raya Bogor, akhir pekan lalu. Warna kuning selama ini diidentikkan dengan Golkar. Namun belum bisa dipastikan itu sebagai simbol dan isyarat dari Jokowi untuk menyerahkan posisi cawapres pada Golkar.
Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily mengamini, dalam dunia politik seringkali menggunakan simbol-simbol. Termasuk warna.
"Politik kan sebetulnya penuh dengan simbol-simbol," kata Ace saat dihubungi, Senin (26/3).
"Jadi saya kira silakan masyarakat menilai apa yang dilakukan Pak Jokowi dlm pertemuan dengan ketua umum kami kemarin," sambung Ace.
Ace mengakui muncul dorongan dari para kader agar Golkar menyodorkan nama Airlangga menjadi cawapres Jokowi saat Rakernas partai. Dorongan itu dianggap wajar, namun Golkar belum memutuskan akan mencalonkan kadernya menjadi cawapres.
"Itu belum menjadi sebuah keputusan partai. Karena itu aspirasi-aspirasi itu kita hargai. Pada saatnya pasti Partai Golkar akan membicarakan cawapres seperti yang diminta para kader tersebut," ungkapnya.
Golkar tengah mencari waktu yang pas untuk menawarkan kader menjadi cawapres Jokowi. Saat ini, Golkar tengah mempertimbangkan beberapa hal dan masih fokus pada pemenangan Pilkada dan Pileg.
"Ada momentum yang tepat. Partai golkar tentu mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya adalah kita ingin bahwa Pak Jokowi ini didukung oleh Partai Golkar yang seharusnya secara elektabilitas juga kuat di bawah," ucap Ace.
Sebelumnya, Pengamat Politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Muradi memaknai 'kaus kuning' Jokowi saat olahraga bersama Airlangga sebagai sebuah kehormatan dari Presiden. Terlebih, Jokowi sebagai tuan rumah.
"Jokowi sebagai tuan rumah pengundang tentu ingin menghormati tamu," kata Muradi saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (26/3).
Muradi menambahkan, dalam politik, tak hanya melulu dilakukan dengan lisan. Namun, bisa juga melalui gestur atau sebuah simbol.
"Golkar bisa geer (senang dengan simbol 'kaus kuning') normal. Apalagi Wapres JK juga Golkar meski saat memilih JK bukan karena partai tetapi ke penokohan," tuturnya.
Selain itu, Golkar yang merupakan partai pengusung Jokowi nomor dua terbesar mempunyai hak mengajukan cawapres. Terlebih, komunikasi Jokowi dengan partai pengusung dan pendukung terus berjalan dengan baik.
"Tetapi saya melihat kaus tersebut tidak terlalu politis. Yang penting komunikasi bekerja terus. PSI saja diterima apalagi Golkar," katanya.