Sudah beberapa tahun siswa MI di Sukabumi belajar di tenda darurat

"Kondisi kelas rawan ambruk dan jika hujan selalu becek dan bocor," ucap Hilman.

Dede Rosyadi
Oleh Dede Rosyadi - Reporter
Sudah beberapa tahun siswa MI di Sukabumi belajar di tenda darurat
Ilustrasi Sekolah Dasar ©2015 merdeka.com/chandra iswinarno

Ratusan pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) Batununggul, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi terpaksa harus belajar di tenda pinjaman dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat."Sudah beberapa tahun terakhir ini kami terpaksa menggunakan teda dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) karena kondisi kelas yang rawan ambruk dan jika hujan selalu becek dan bocor," ujar Kepala MI Batununggal, Hilman Gazali di Sukabumi, Jumat (8/4).Menurutnya, jumlah pelajar MI itu muridnya ada 104 orang. Sekolah ini hanya memiliki lima ruangan, satu digunakan ruang guru dan empat ruang lainnya untuk kelas."Karena kondisinya yang rawan ambruk terpaksa jika hujan turun kita memindahkan KBM ke dalam tenda, dan itu pun seluruh kelas disatukan sehingga proses KBM tidak maksimal," keluh Hilman.Selain ruang kelas yang sudah tidak layak, sekolah ini juga kekurangan meja dan kursi. Sehingga terpaksa anak didiknya belajar di lantai.Kondisi seperti ini memang sangat memprihatinkan, tetapi pihak sekolah tetap berupaya memberikan yang terbaik untuk anak didiknya agar tetap bisa mendapatkan ilmu untuk masa depannya."Di tengah keterbatasan ini kami tetap harus bersemangat dalam melakukan KBM, selain itu mayoritas pelajar ini berasal dari kalangan tidak mampu menyebabkan sekolah sulit menarik iuran," ucapnya.Hilman mengatakan, sebenarnya pihaknya sudah melayangkan proposal permohonan bantuan ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten dan Pemerintah Sukabumi sejak tahun lalu. Namun hingga saat ini belum ada respon.Untuk itu pihaknya berharap agar ada lembaga yang membantu membangun ruang kelas untuk kegiatan KBM yang layak.Dea, siswi kelas IV MI Batununggal mengatakan dirinya sulit menyerap informasi dari gurunya, karena kondisi tempat KBM tidak layak. Jika kemarau selalu berdebu dan saat musim hujan becek dan bocor. Ditambah dalam ruang kelas ada dua guru saja yang memberikan materi untuk jenjang kelas berbeda."Susah konsentrasi, tetapi bagaimana lagi saya harus tetap semangat di tengah keterbatasan ini," katanya dikutip dari Antara.Dasep pelajar kelas II MI, menambahkan dirinya terpaksa harus belajar di lantai, lantaran tidak ada kursi dan meja. Bahkan terkadang harus membungkuk dan pegal selama mengikuti KBM.

Rekomendasi