Stres, polisi-polisi ini bunuh diri hingga buka rok mempelai wanita

Polisi yang mengalami gangguan jiwa tentu meresahkan warga.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Stres, polisi-polisi ini bunuh diri hingga buka rok mempelai wanita
Ilustrasi Polisi. ©2014 Merdeka.com

Penyakit gangguan jiwa bisa terjadi pada setiap orang. Tidak hanya orang biasa, namun seorang anggota polisi polisi pun bisa mengalaminya. Mungkin selama ini tidak pernah terpikir jika seorang polisi yang dianggap tegas dan pengayom masyarakat ada yang gila.Sebab, sebelum menjadi anggota Polri salah satu tahapannya dengan tes kesehatan jiwa dan raga. Oleh karena itu, pasti akan kaget jika mendengar ada polisi yang mengalami gangguan jiwa.Namun, hal itu terbukti ketika akhir-akhir ini masyarakat dikejutkan dengan beberapa peristiwa yang menimpa anggota Bhayangkara itu. Akibat mengalami gangguan jiwa polisi melakukan tindakan yang di luar dugaan seperti bunuh diri, membuat onar di Bandara hingga membuka rok pengantin wanita.Jelas peristiwa itu membuat geleng-geleng semua orang, sebab orang yang dianggap bisa memberantas tindak kejahatan malah berbuat seperti itu. Berikut cerita polisi-polisi yang stres dan berbuat di luar nalar.

Entah apa yang ada di benak Aiptu Muhammad Arsyad. Polisi berumur 42 tahun nekat membuka rok dari mempelai wanita saat menghadiri acara pernikahan di Gedung Bumi Bakti Adhiguna BPN, Jl AP Pettarani Makassar, Sabtu (3/4) lalu. Arsyad pun langsung menjadi bulan-bulan massa yang menghadiri acara resepsi pernikahan tersebut."Ya sempat dipukuli tamu katanya. Bahkan sampai dilarikan ke RS Bhayangkara," ujar Kabid Humas Polda Sulselbar Kombes Endi Sutendi kepada merdeka.com, Senin (6/4).Menurut Endi, Muhammad Arsyad diduga mengalami gangguan kejiwaan. Saat ini Aiptu Arsyad sudah ditangani oleh Propam Polda Sulsel."Kasusnya sudah ditangani oleh Propam. Diduga mengalami gangguan psikis, atau stres. tapi kita belum tahu penyebabnya," terang Endi.Menurut Endi, Aiptu Arsyad tidak diundang dalam pernikahan tersebut. Arsyad juga tidak punya hubungan dengan pihak mempelai yang menikah tersebut."Datang sendiri, tidak tahu kenapa lalu berbuat seperti itu. Kasusnya sudah ditangani Propam," imbuhnya.

Anggota Provost Polsek Manggala, Makassar, Brigadir Polisi Arifin (40) menembakkan senjata api ke kepalanya sendiri. Diduga Arifin melakukan hal tersebut karena mengalami stres.Sejumlah saksi mata mengungkapkan setelah mengikuti apel pagi, Arifin masuk ke ruang provost dan menguncinya. Beberapa saat kemudian terdengar suara letusan dari dalam ruangan tersebut sekitar pukul 07.50 WITA."Kami mendengar adanya bunyi letusan senjata api, kemudian mencari suara tersebut yang berada di ruangan almarhum, pintu terpaksa dibuka paksa dan korban ditemukan sudah tidak bernyawa," kata Kanit Provost Polsek Manggala Aiptu Salam, seperti dilansir Antara, Sabtu (4/3).Saat ditemukan pukul 10.00 WITA, korban dalam kondisi sedang terbaring di kursi dan mengalami luka tembak di kepala sebelah kanan, serta ditemukan pula pistol yang tidak jauh dari mayat."Almarhum langsung kami larikan ke Rumah Sakit Bayangkara untuk dilakukan perawatan. Kami belum tahu apa motif penembakan diri itu," kata Salam.Saat dikonfirmasi, Kepala Polisi Sektor Manggala Komisaris Polisi, Akbar Setiawan, membenarkan kejadian itu dan tidak mengetahui motif apa yang melatarbelakangi aksi bunuh diri tersebut."Selama saya menjabat, almarhum tidak ada keterlibatan perselisihan dengan rekan-rekannya. Sepanjang pengetahuan saya almarhum itu orangnya penyabar dan pendiam. Saat kejadian itu hanya dirinya di dalam ruangan," tutur Akbar.Sesampainya jasad korban di Rumah Sakit Bayangkara, Jalan Mappaodang Makassar, Sulawesi Selatan, kakak kandung almarhum, Teni, langsung melihat jenazah korban di ruang disaster victim identification (DVI), dia langsung histeris serta berteriak-teriak."Tidak mungkin adikku ini bunuh diri, mungkin dia dibunuh," ucapnya bernada tinggi ke arah orang di sekelilingnya.Namun, sejumlah rekan korban dan kerabat berusaha menenangkan dan meminta agar dirinya ikhlas menerima cobaan yang menimpa adiknya.Istri Arifin, Mark, juga terlihat kaget saat mengetahui suaminya meninggal dunia dengan menembakkan pistol di kepalanya sendiri. Bahkan, saat berada di Rumah Sakit, istri almarhum juga terlihat histeris dan seakan tidak menerima kejadian tersebut.Sejumlah kerabat dan keluarga menolak untuk mengautopsi korban. Akhirnya jenazah dibawa ke rumah duka di Perumahan Berlian, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, untuk disemayamkan.

Pengunjung dan calon penumpang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, mendadak heboh dengan ulah seorang warga yang ngamuk sambil mengoceh di halaman parkir bandara, Kamis (5/2) malam.Ternyata, orang tersebut adalah anggota polisi berpangkat brigadir inisial IB (33) yang penyakit gilanya kambuh.Kabid Propam Polda Sumsel Kombes Pol Diediek DP membenarkan peristiwa tersebut. Menurut dia, Brigpol IB diamankan provos TNI AU yang curiga dengan ulahnya. Begitu dilakukan pemeriksaan, ternyata IB adalah anggota polisi yang bertugas di Polres Prabumulih, Sumsel."Brigpol IB diserahkan TNI AU ke Polda Sumsel. Dia sudah kita kembalikan kepada keluarganya untuk dirawat," ungkap Diediek, Jumat (6/2).Dijelaskannya, ulah Brigpol IB tidak membuat kegaduhan yang membuat kerusakan bandara. Dia hanya mengamuk dan mengoceh tak karuan sehingga jadi perhatian pengunjung."Tidak sampai anarkis. Dia cuma ngoceh-ngoceh saja, karena dia memang gila, penyakitnya kambuh," kata dia.

Briptu S, anggota Polda Riau menabrak pengendara sepeda motor di persimpangan jalan Kayangan Rumbai, sekitar pukul 07.30 WIB hingga luka parah. S yang bertugas Direktorat Sarana dan Prasarana (Sarpras) Polda itu diduga mengalami gangguan jiwa.Ketika terjadi peristiwa pada Selasa (3/2) itu, S sedang tidak menggunakan seragam polisi. Sebelumnya polisi tersebut pernah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa Tampan.Kasubbid Provost Polda Riau, Kompol Zalukhu membenarkan hal itu. Menurutnya, Briptu S memang alami gangguan kejiwaan. "Menurut keluarganya yang kita hubungi, S ini memang mengalami depresi, stres dan sering marah-marah di rumah," kata Zalukhu.Kini dia pun dibawa kembali oleh keluarga ke rumah sakit jiwa, agar tidak meresahkan warga.

Rekomendasi