Di tengah penanganan Covid-19 yang belum usai, masyarakat di Bondowoso, Jawa Timur dihebohkan dengan kabar bahwa Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Syaifullah dianggap meremehkan ancaman virus yang pertama kali muncul di China ini. Kabar tersebut berasal dari potongan video YouTube yang berisi acara silaturahim secara daring (webinar) dari sebuah organisasi. Dalam video YouTube yang kini sudah dihapus tersebut, Syaifullah menjadi salah satu tokoh yang berbicara perihal penanganan Covid-19 dan persiapan menyongsong New Normal.
"Izinkan saya, dalam kesempatan ini, Covid-19 saya tinggalkan dulu. Karena bagi saya, Covid ini adalah sebuah opini yang dibangun oleh sebuah paradigma. Dan saya belum menemukan langsung, orang yang terkena Covid ini, sepertinya menakutkan. Enggaklah, enggak. Nah saya fokus pada pupuk sekarang ini. Petani harus berhasil," tutur Syaifullah dalam potongan video yang beredar di media sosial dan Whatsapp tersebut.
Tidak pelak, potongan video itu kemudian menimbulkan kontroversi. Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Kamis (11/6), Syaifullah membantah anggapan bahwa dia meremehkan Covid-19. Video tersebut menurutnya telah dipotong dengan tidak utuh sehingga menampilkan kesan yang berbeda.
"Jadi saat itu saya ditanya oleh moderator bagaimana sikap Pemkab Bondowoso terhadap New Normal? Saya paparkan panjang lebar, terkait persiapan dari sejumlah OPD (Organisasi Perangkat Daerah)," ujar Syaifullah.
Berdasarkan pengalamannya memimpin penanganan Covid-19 di Bondowoso, Syaifullah menilai tingkat kesembuhannya cukup tinggi. Di Bondowoso terdapat satu rumah sakit milik pemkab, yakni RSUD dr Koesnadi yang ditunjuk Menkes sebagai rumah sakit rujukan penanganan Covid-19. Rahasia penyembuhan itu (menurut Syaifullah setelah bertanya ke tenaga medis) adalah karena menggunakan vitamin dan jamu atau empon-emponan.
"Contoh di Rumah Sakit Bondowoso itu, dari 10 (pasien positif) yang sembuh 10 orang. Setelah kita dialog dengan tenaga medis, inject-nya memang vitamin C yang dosisnya ditinggikan. Tetapi keluarga pasien juga menyiapkan minuman (herbal) seperti mengkudu, temu lawak, jahe merah, itu direbus sendiri. Nah kalau penyembuhannya seperti itu, artinya Covid-19 ini tidak terlalu beratlah," tutur Syaifullah.
Pandangan Syaifullah tentang covid-19 ini juga ditunjang oleh pengetahuan yang ia peroleh dari media sosial. Yakni pemaparan dari dokter dan ilmuwan di bidangnya. "Yang kedua, saya lihat dari YouTube-YouTube para dokter, bahkan saya lihat di Medsos. Juga (pemerintah) pusat itu sekarang menyatakan bahwa tidak ada orang yang meninggal karena Covid-19. Ada saya itu (datanya)," lanjut pria yang lama berdinas di Pemkab Situbondo ini.
Diakui Syaifullah, saat berbicara di dalam webinar tersebut, dia sedang letih setelah banyak mengadakan rapat koordinasi terkait sektor pertanian. "Saya bilang, untuk hari-hari ini saya akan lebih fokus pada pupuk. Tetapi bukan meninggalkan (masalah) corona. Lha wong saya ini Ketua Tim Anggaran," papar Syaifullah. Jabatan Sekda di setiap daerah secara aturan memang ex-officio menjadi Ketua Tim Anggaran yang membahas APBD.
Selama beberapa waktu terakhir, Syaifullah mengaku terus intens berkoordinasi dengan bupati, wakil bupati dan semua lini di Pemkab Bondowoso, guna menyiapkan New Normal. Dengan hal tersebut, Syaifullah berharap, perekonomian masyarakat Bondowoso tidak makin terpuruk akibat ketakutan berlebih terhadap Covid-19.
"Kemarin saya bersama bupati dan wabup meninjau pasar untuk persiapan New Normal. Artinya kehidupan new normal itu tetap kita lakukan. Tetapi jangan fokus pada masalah Covid-19 sehingga melumpuhkan perekonomian masyarakat. Saya turun ke lapangan, berdarah-darah dengan PPL (penyuluh pertanian lapangan), menggerakkan camat supaya masalah data pupuk subsidi ini segera tuntas akhir Juni sehingga bisa di-droping lagi dari pusat," papar Syaifullah.
Syaifullah membantah dia akan membiarkan masalah Covid-19. Namun ia ingin aktivitas perekonomian bisa kembali pulih, dengan masyarakat tetap menjaga protokol kesehatan. "Kalau kita lihat di jalan-jalan ini kan masyarakat lebih memilih menyelesaikan masalah ekonominya daripada masalah Covid. Tetapi tetap kita kawal. Masalah protokol kesehatan bagaimana pun, di pasar harus jaga jarak dan pakai masker. Jangan terlalu takut berlebihan. Kan Pak Jokowi menyatakan, yang menjadi masalah itu bukan coronanya, tetapi sikap kita menghadapi corona," lanjut pria yang menjabat sebagai Sekda Bondowoso sejak pertengahan tahun lalu ini.
Syaifullah juga membandingkan prioritasnya dengan yang diterapkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. "Pak Anies ketika masalah corona masih awal tegang-tegangnya, pasar tidak dia tutup. Yang penting protokol kesehatan di jalankan. Pakai masker dan jaga jarak. Nah ini yang mau saya bawa ke Bondowoso," jelas Syaifullah.
Pilihan untuk memprioritaskan pemulihan ekonomi, juga didasari atas keprihatinanya terhadap dampak Covid-19 kepada masyarakat kecil. "Tadi waktu saya bagi sembako, saya bicara dengan sopir angkot, saya tanya berapa pendapatannya. Mereka bilang, jangankan pendapatan, mereka sudah minus sehingga beli BBM juga sulit. Makanya tadi kita bantu juga. Kepada orang seperti ini kan tidak mungkin saya minta untuk tidak keluar rumah," kata Syaifullah.
Sebagai bukti masih berkomitmen terhadap penanganan Covid-19, Syaifullah mengaku selalu membawa pengeras suara di dalam mobil dinasnya. Setiap menemukan masyarakat yang tidak memakai masker di jalan, ia mengaku akan turun keluar mobil dan memperingatkannya secara langsung. Jika kondisi seperti sekarang dibiarkan, Syaifullah khawatir dampak ekonomi dari pandemi Covid-19, akan menjadi beban bagi APBD.
"Mari kita hitung sekarang. Berapa yang sakit, berapa yang meninggal. Dan terus dengan dana APBD dan APBN berapa yang kita persiapkan. Bukannya njomplang (tidak imbang) tapi berat sekali di anggaran. Itu yang kita pikirkan sekarang. Kalau ada yang meminta tetap fokus pada Covid-19, ya silakan. Tetapi saya akan memberikan pencerahan ke masyarakat bahwa oke corona ada, tetapi kita jaga kesehatan, tingkatkan imun, minum empon-emponan. Di sisi lain, kita tetap harus bekerja keras mencari nafkah untuk anak istri," pungkas Syaifullah.