Ribuan santri yang sempat mudik ke kampung halamannya diperkirakan akan kembali ke sejumlah pesantren di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya pascalibur Lebaran. Mereka harus menjalani karantina dan dipastikan bebas Covis-19 sebelum masuk ke asrama.
Kepala Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya Usep mengatakan, seluruh pondok pesantren di Kabupaten Tasikmalaya sudah memberitahukan rencana kembalinya para santri kepada Gugus Tugas Penanganan Covid-19 kabupaten dan pihaknya. "Jadi semuanya juga datang ke masing-masing pesantren sudah ada jadwalnya, dijadwal," kata Usep, Senin (24/5).
Para santri yang kembali ke pesantren, menurut Usep, disarankan membawa surat hasil pemeriksaan, atau pernyataan bebas virus corona. "Saat datang ke pesantren, mereka tidak langsung disatukan, tapi dikarantina beberapa hari sampai dinyatakan steril," ucapnya.
Untuk santri yang di rumahnya masih sakit, diungkapkan Usep, tidak diizinkan terlebih dahulu untuk datang ke pesantren. Mereka yang sehat dan membawa surat keterangan bebas Covid-19, saat datang di lingkungan pesantren tetap diharuskan diperiksa sesuai standar penanganan, seperti cek suhu tubuh dan lainnya.
Pihak pesantren juga diharuskan untuk membentuk satuan tugas. Kemenag pun akan terus melakukan pemantauan pada setiap kegiatan.
"Di Kabupaten Tasikmalaya setelah Lebaran, sementara ini diperkirakan 14.829 santri yang akan kembali ke pesantren-pesantren. Namun kedatangan mereka tidak sekaligus, namun diatur sesuai jadwal yang sudah disepakati," ungkapnya.
Sementara itu, Kasubbag Tata Usaha Kementerian Agama Kota Tasikmalaya Yayan menyatakan, belum seluruh santri akan kembali ke pesantren-pesantren. Dari sekitar 40 ribuan santri, diperkirakan hanya sekitar 10 ribu yang akan kembali mondok di sejumlah pesantren di Kota Tasikmalaya.
"Sisanya menyusul nanti. Karena ada pesantren berbasis sekolah, biasanya Juli, saat ajaran baru," kata Yayan.
Dia menjelaskan, berdasarkan petunjuk teknis dari Menteri Agama, setiap santri yang kembali ke pesantren harus membawa surat bebas Covid-19. Selain itu, para santri juga harus diisolasi di lingkungan pesantren sebelum masuk asrama.
"Kalau memang sudah steril, bisa masuk ke asrama. Pokoknya di pesantren diinstruksikan untuk melakukan prokes, jangan sampai terjadi kasus seperti kemarin. Pesantren seselektif mungkin melihat rekam jejak santri selama mudik," jelasnya.