Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ribuan anak teroris perlu perhatian dan pendidikan

Ribuan anak teroris perlu perhatian dan pendidikan Pesantren Darusy Syifaa. ©2016 merdeka.com/yan muhardiansyah

Merdeka.com - Siswa yang belajar di Pesantren Darusy Syifaa, tempat bagi anak teroris berusia antara 10 hingga 22 tahun. Mereka masih tinggal di lokasi dan duduk di kelas yang sama.

"Semuanya duduk di bangku dengan derajat SMP, karena walaupun ada yang sudah 22 tahun tapi dia belum tamat SMP, jadi kita paketkan," sebut Khoirul Ghazali alias Abu Yasin (50), pendiri Pesantren Darusy Syifaa.

Santri yang belajar di Darusy Syifaa hanya sebagian kecil dari anak-anak yang orangtuanya terlibat kasus terorisme. Ghazali memperkirakan jumlahnya mencapai 20.000 anak di seluruh Indonesia.

Khusus di Sumatera Utara sekitarnya, terdapat 70 anak dari 25 orangtua yang terlibat kasus terorisme. Baru sebagian kecil yang menjadi santri di Darusy Syifaa, karena beberapa kendala.

Selain itu belum ada asrama khusus, karena kebanyakan di antara 70 anak-anak itu merupakan anak perempuan. "Saat ini baru satu santri perempuan. Dia tinggal bersama kami di rumah depan," kata Ghazali sambil menunjuk bangunan permanen yang ada di bagian depan kompleks pesantren.

Ke-20 santri ini dididik 5 pengajar, seorang di antaranya perempuan. Semuanya relawan dan belum mendapatkan gaji.

M Haris Iskandar (50) merupakan salah satu pengajar di sana. Pria yang pernah menjabat Ketua Balitbang Pesantren Darul Arafah dan staf Direksi di Sekolah Khairul Umam Medan ini dipercaya menjadi Direktur Pesantren Darusy Syifaa.

Haris merasa terpanggil untuk menjadi relawan karena para santri memang digratiskan. Selain itu, mereka anak mantan teroris.

"Saya merasa tertantang untuk mengabdi karena pesantren ini berbeda dan menjadi pusat deradikalisasi," ucapnya.

Pria yang juga tinggal di Pesantren Darusy Syifaa ini memaklumi jika sekarang mereka belum mendapat gaji. "Sekarang belum, ke depan mungkin ada," ucap Haris.

Dia mengatakan, awalnya ada kesulitan mengajar para santri yang merupakan anak teroris ini, karena mereka tidak mau sekolah. Namun lama-kelamaan semuanya lebih bisa mengikuti.

Para santri juga mengaku senang menimba ilmu di Pesantren Darus Syifaa. Mereka rela tinggal di lokasi itu meski tidak ada hiburan televisi dan radio.

Mereka belajar dari usai salat Subuh hingga pukul 10.00 WIB dilanjutkan setelah Zuhur hingga Ashar. Sore hari anak warga sekitar juga datang belajar di sana sebagai upaya pembauran.

Salah seorang santri yang masih berusia 13 tahun mengaku kerasan tinggal di Pesantren Darusy Syifaa. "Enak pesantren di sini," kata bocah laki-laki asal Kota Tanjung Balai yang sempat berhenti sekolah di kelas 4 SD itu.

Dia mengaku kerasan tinggal di pesantren itu. Bukan hanya belajar, mereka juga bisa bermain di sana.

(mdk/eko)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP