Pengeboran pipa akibatkan semburan lumpur di Tarumajaya makin parah

Ketua RT setempat, Juroh mengatakan, lumpur mulai menyembur pada Minggu (7/8) malam sekitar pukul 23.00 WIB.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pengeboran pipa akibatkan semburan lumpur di Tarumajaya makin parah
Semburan Lumpur di Gresik. ©2012 Merdeka.com

Semburan lumpur di Desa Segara Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, semakin parah. Bahkan, banjir lumpur pada Senin (8/8) sudah meluas sampai ke jalan raya Marunda Makmur, dengan ketinggian mencapai 20 cm.

Ketua RT setempat, Juroh mengatakan, lumpur mulai menyembur pada Minggu (7/8) malam sekitar pukul 23.00 WIB.

"Sudah ada tiga mobil untuk menyedot lumpur, namun kendaraan itu kewalahan," kata Juroh ketika dikonfirmasi, Senin (8/8).

Juroh mengatakan, kemacetan akibat lumpur itu membuat banyak kendaraan besar dari Marunda menuju Tarumajaya tersendat, hingga pukul 19.00 WIB tadi.

"Banyak kendaraan yang tidak bisa melintas," kata dia.

Selain di jalan raya, lumpur juga membanjiri jalan di sekitar lingkungan perkampungan tersebut. Beruntung, sebagian lumpur larut ke saluran setelah wilayah itu diguyur hujan deras.

Kejadian sebelumnya terjadi pada pekan lalu. Hanya saja ketika itu lumpur membanjiri sejumlah rumah penduduk, dan cepat ditanggulangi oleh perusahaan dengan cara menyedot menggunakan mobil tangki.

Manajer Publik Relation dan CSR PT. Pertagas, Chatim Ilwan mengatakan, lumpur yang membanjiri jalan raya Marunda Makmur, Desa Segara Makmur, Kecamatan Tarumajaya merupakan material berupa bentonit milik perusahaan yang meluap.

"(Bentonit) Itu hanya di entry point, lokasi masuknya pipa, bukan dari dalam tanah," kata Chatim.

Chatim mengatakan, perusahaan telah memasukkan pipa gas dengan ukuran 24 inci sepanjang 1 kilometer. Dengan begitu, proses pemasangan pipa gas untuk suplai gas ke PLTGU Muara Tawar di Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, pun dianggap selesai.

Dirinya menjelaskan, pipa dipasang dengan cara ditarik. Adapun, lubang pipa tersebut sudah dibuat dengan teknik pengeboran secara horizontal, sehingga ketika pengeboran berlangsung hal yang sama juga terjadi. Namun, ketika itu bentonit keluar dari dalam tanah.

"Sebab, tanah di sana tidak padat, karena bekas rawa maupun sawah," ujarnya.

Chatim menjamin material tersebut tidak berbahaya, karena merupakan milik perusahaan yang dipakai sebagai pelumas ketika pengeboran maupun pemasangan pipa.

"Ketika sudah selesai, tidak akan muncul lagi material kami," katanya.

Diketahui, PT Pertamina Gas menyatakan, selama proses pemasangan pipa gas tersebut, perusahaan akan bertanggung jawab seratus persen atas dampak yang ditimbulkan. Seperti misalnya, apabila terjadi kerusakan infrastruktur rumah di Desa Segara Makmur, Tarumajaya, dan segala hal terkait dampak dari pengerjaan pemasangan pipa tersebut.

Rekomendasi