Operasi Camar Maleo sudah sampai IV, namun gembong teroris paling di buru di Poso, Sulawesi Tegah, Santoso alias Abu Wardah belum juga tertangkap. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti pun sempat menargetkan harus meringkus Santoso sebelum akhir tahun ini. Dalam operasi Maleo I yang digelar pada 26 Januari-26 Maret 2015 itu, tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap 17 orang terduga anggota jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Di antara belasan anggota MIT itu, polisi menduga ada anak buah Santoso yang bertugas sebagai penyuplai logistik bagi kelompok yang bersembunyi di pegunungan. Aparat gabungan TNI dan Polri yang diberi nama pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) dengan jumlah 3.222 personel pun kembali diturunkan dan menggelar latihan di Wilayah pegunungan di Kecamatan Poso Pesisir, Poso Pesisir Selatan, Poso Pesisir Utara dan Lore Utara. Dalam kurun waktu latihan gabungan yang digelar hingga Mei 2015 itu, tim ini berhasil menewaskan salah satu orang kepercayaan Santoso yakni Abu Autad alias Sabar alias Daeng Koro. Sabar tewas diberondong peluru saat baku tembak di Pegunungan Sakinan Jaya, Parigi Mautong, Sulawesi Tengah, pada (3/4) lalu.Setelah berhasil menjaring 17 orang dan satu orang kepercayaan Santoso, tim lantas tak puas karena jaringannya masih cukup besar. Dibuat lah Operasi Camar Maleo II. Sinyal kuat operasi tersebut dilanjutkan menyusul belum tertangkapnya pimpinan Mujahidin Indonesia Timur, Santoso, di Poso, Sulawesi Tengah. "Nanti kita akan lanjutkan setelah tunggu latihan gabungan TNI," kata Kepala Bagian Operasional Korps Brimob Polri Kombes Pol Leo Bona Lubis di Mako Brimob Polri Kelapa Dua Depok, Jawa Barat, Selasa (14/4/2015) kala itu.
Advertisement
Operasi ini dimulai pertengahan Mei hingga 7 juni 2015 dan dipusatkan di Poso. Sebelum melakukan operasi, petugas mencermati beberapa kajian terlebih dahulu. Salah satu kajiannya yakni melihat hasil operasi teritorial gabungan TNI yang digelar di Poso, Sulteng, sebulan ke depan sejak pertengahan Maret lalu. 1.000 pasukan Brimob pun kembali ditambah. Pasukan ini di antaranya 600 personel dari pasukan BKO Kelapa Dua Jakarta, 367 personel Brimob Polda Sulteng, dan aparat dari Polres Poso dan Satuan Sabhara.Setelah berakhir, polisi pun melanjutkan operasi ini ke tahap selanjutnya yaitu Camar Maleo III. Operasi ini digelar setelah kelompok Santoso melakukan aksi teror dengan membunuh tiga warga sipil di Sulawesi Tengah. Diperkirakan, pembunuhan itu dilakukan sebagai bentuk balas dendam lantaran Polda Sulteng pada 19 Agustus lalu melakukan penyergapan dan menewaskan salah seorang anggota kelompok Santoso.Badrodin menambahkan, target utama dalam Operasi Camar Maleo ini adalah menciptakan rasa aman bagi warga, sekaligus mengantisipasi terjadinya tindak teror oleh kelompok Santoso selanjutnya. 1000 personel kembali diturunkan. "Sekarang sedang ada Operasi Camar ke tiga dibantu TNI juga melakukan operasi. 1000 dari Polri," kata Badrodin usai melaksanakan Salat Jumat di Masjid lingkungan Mabes Polri, Jaksel (25/9/2015).Setelah Camar Maleo III berakhir, babak baru pun dimulai dengan Camar Maleo jilid IV. Operasi Camar Maleo IV dengan misi memburu teroris Santoso dan anak buahnya di kawasan hutan dan pegunungan Poso Pesisir, Sulawesi Tengah. Operasi jilid IV ini berakhir 9 Januari."Sejumlah pasukan TNI dan Polri terlibat dalam operasi itu telah ditarik dari pos masing-masing yang seluruhnya berjumlah 24 pos," kata Kapolres Poso, AKBP Ronny Suseno, di Poso, Jumat (8/1/2016).Menurut Ronny, dari seribu personel Brimob Mabes Polri diperbantukan ke Polda Sulteng buat operasi itu, telah ditarik 300 personel buat penggodokan dan akan dikembalikan lagi ke Poso. Sementara 700 anggota TNI semuanya telah ditarik ke kesatuan masing-masing.Ronny melanjutkan, dengan selesainya operasi Camar Maleo IV, perburuan teroris di Poso belum berakhir. Mereka akan melanjutkan dengan operasi mandiri Polda Sulteng dengan sandi 'Tinombala'.
Advertisement
Operasi Tinombala tahap pertama dimulai 9 Januari sampai 9 Maret 2016, dan melibatkan sekitar 2.500 pasukan gabungan TNI-Polri. Selama tiga bulan memburu Santoso, operasi ini berhasil menangkap beberapa orang DPO. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti kegiatan terorisme seperti senjata api, amunisi, bom rakitan, bahan pembuat bom, pakaian, senter, pakaian dan bendera ISIS, serta banyak benda lainnya.Perburuan Santoso ditunda sementara karena adanya insiden Helikopter milik TNI AD jenis Bell 412 EP mengalami kecelakaan saat melakukan perburuan kelompok teroris Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Minggu (20/3). 13 anggota TNI dinyatakan tewas dalam insiden tersebut. Namun, Panglima TNI Gatot Nurmantyo menegaskan Operasi Tinombala akan tetap berlangsung walaupun telah terjadi insiden jatuhnya helikopter.Adapun 13 prajurit yang gugur di dalam musibah Helikopter tersebut yaitu: 7 penumpang dan 6 crew, dengan rincian sebagai berikut: Kolonel Inf Saiful Anwar (Danrem 132/Tdl), Kolonel Inf Heri, Kolonel Inf Ontang R. P., Letkol Cpm Tedy, Mayor Inf Faqih, Kapten Dr. Yanto, Prada Kiki, Kapten Cpn Agung, Lettu Cpn Wiradi, Letda Cpn Tito, Serda Karmin, Sertu Bagus, Pratu Bangkit.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377154/original/032616600_1792407138-243237.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9373849/original/019671800_1791990193-131602.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377152/original/012707900_1792407094-IMG_9896.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377144/original/028388400_1792406634-Kapolri_Jenderal_Suyudi_Ario_Seto.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364166/original/001813400_1759043139-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8069661/original/073738100_1780914672-4.jpg)