Perkara jodoh bisa dibilang sebagai perkara yang susah-susah gampang. Bicara jodoh, seperti bicara dualisme dalam sebuah organisasi.Sebagian orang memandang jodoh sebagai pilihan, tapi ada juga yang memandang jodoh adalah takdir. Sebuah ketetapan tuhan yang pasti akan terjadi di suatu waktu.Pandangan seperti ini pada akhirnya menggiring mereka pada sebuah kenyataan yang beranggapan bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, dan manusia hanya bisa menerima apa yang sudah ditentukan tanpa bisa berbuat apa-apa.Bak 'wayang' yang melakoni apa saja yang dikehendaki oleh 'sang dalang'. Waktu terus berganti, hari silih berganti, pikiran pun terus dihantui oleh perkara jodoh ketika memasuki usia matang, jodoh tak kunjung datang.Apa yang membuat para lajang uzur ini tak kunjung menemukan cintanya?"Bisa banyak penyebab ya. Lingkungan keluarga yang enggak kondusif, sehingga tanpa disadari ketika dia menjalani hubungan atau ketika berinteraksi dengan lawan jenisnya yang menuju ke arah yang serius atau pernikahan, itu jadi hambatan. Biasanya itu seringkali terjadinya di bawah sadar, sehingga ketika dipikirkan akan spontan 'Enggak ah kayaknya enggak ada ah'. Dan kalau dalam sesi konseling didalami baru ketemu," ujar Psikologi Keluarga, Mira D Amir, saat dihubungi merdeka.com, Jumat (23/10).Mira juga tak memungkiri ketidakmujuran seseorang bisa menimpanya, meski tuhan telah menggariskan siapa yang akan jadi pasangan makhluk ciptaan-Nya."Kurang mujur bisa, nah itu tergantung kepribadiannya ya. jadi misalnya perfeksionis, mereka yang perfeksionis akan kerepotan karena nggak ada manusia yang sempurna. Misalnya ah kurang tinggi, kurang oke, kurang ini itu. ga cuman perempuan ya zaman sekarang, pada pria juga begitu," kata Mira.Menurut Mira, tak kunjung mendapat pasangan di usia matang adalah kerugian besar bagi perempuan. Sedangkan untuk pria, lajang hingga usia tua bukan sebuah masalah.Lanjut dia, masih ada fleksibilitas bagi pria untuk meminang tambatan hatinya tanpa mengenal perbedaan usia. Faktanya, banyak laki-laki yang sudah berusia 50 tahun bisa menikahi wanita berusia 20-an."Mungkin kalau perempuan jauh lebih rugi, karena mereka usia expirednya lebih cepet. kalau pria enggak masalah usia berapa juga masih bisa dapet yang lebih muda dapatnya. Cuma kan dalam masyarakat kita kalau perempuan kan kalau bisa dapetnya yang lebih tua lah usianya. Usia 40 kan enggak mungkin lajang, bisa duda atau lainnya. Kalau saya liat yang jomblo sampai usia yang sudah tua gitu enggak cuma perempuan juga banyak pria yang demikian mereka yang perfeksionis jauh lebih repot," ujarnya.Selain itu, kata dia, lajang di usia senja tentu akan berdampak tidak baik untuk kesehatan. Bahkan secara kehidupan sosial, lajang berkepanjangan akan membuat dirinya menjadi tidak lengkap."Dari penelitian bilang kalau mereka yang single kesehatannya rentan dibanding mereka yang menikah, secara psikologis di usia dewasa salah satu perkembangannya adalah menikah, kalau itu enggak terpenuhi kalau di lingkungan sosial agak kurang bisa diterima. Dirinya secara sosial enggak lengkap, jadi serba salah," paparnya.Lalu apa solusinya untuk mengatasi hal ini? Mira menyebut jika jalan terbaik adalah dengan melakukan konseling dan terapi. Dirinya tidak bisa menjabarkan apa solusi terbaik dari masalah ini karena melihat masalah ini terjadi di usia yang sudah uzur. Di sisi lain, kondisi psikologis seseorang tidak bisa di generalisasi."Konseling untuk melihat atau dibantu menelusuri. Kedua terapi, salah satunya behaviour kognitif therapy. Biasanya harus dari yang bersangkutan, maunya dari psikolog titiknya itu dari klien. Psikolog enggak bisa ngasih saran karena harus ada emosi dia yang terkait. Kalau cuma kasih omongan-omongan kan di media beragam kan tapi kan buat umum. biasanya kalau udah sampai usia ini ada faktor penyebab yang lebih besar lagi, nah itu yang secara individual harus ditangani," tutupnya.
Mengapa cinta tak kunjung tiba meski usia sudah tua?
Lajang di usia senja tentu akan berdampak tidak baik untuk kesehatan.
Rekomendasi