Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengungkapkan radikalisme dan terorisme tidak lagi menyerang pada keluarga muslim. Masalah ini juga telah menyerang para umat agama lainnya."Ini tidak hanya masuk dalam ranah keluarga muslim. Keluarga fanatik agama lain mulai menjerit istrinya terjebak masuk kelompok ini. Perusahaannya, anaknya yang menggerogoti hartanya," kata Tjahjo pada Kongres Nasional Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Jakarta, Selasa (23/2).Maraknya kasus radikalisme dan terorisme, kata Tjahjo, efek dari lengahnya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam pencegahan terorisme. Bukan hanya intelejen, dia juga meminta semua masyarakat juga bertanggungjawab dalam hal ini."Saya kira harus terpadu dengan baik, ada intelejen polisi, TNI, imigrasi serta teman-teman pers yang bisa mengomunikasikan dengan baik," ujar dia.Saat ini Kemendagri sudah mengeluarkan edaran kepada forum pimpinan daerah kabupaten/kota hingga di tingkat kecamatan dalam rangka mengantisipasi radikalisme. Badan anti teroris juga akan melakukan pencegahan hingga tingkat desa.Tak hanya itu, dia juga membeberkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) menduduki peringkat ketiga dalam pelanggaran HAM. Untuk itu Kemendagri tegas menerapkan revolusi mental mulai dari IPDN. Pihaknya juga sudah memecat 61 orang yang terbukti melakukan pelanggaran."Siapa yang lakukan pemukulan, narkoba langsung pecat. Termasuk pembinaan dan pengasuh yang sudah kami terapkan satu tahun," terangnya.
Mendagri sebut radikalisme & terorisme tak cuma di keluarga muslim
Maraknya kasus radikalisme dan terorisme, kata Tjahjo, efek dari lengahnya BNPT dalam pencegahan terorisme.
Rekomendasi