Megawati: Jangan sampai lidah dan perut bangsa Indonesia terjajah

Megawati mengingatkan kembali ucapan Bung Karno soal perlunya kedaulatan pangan.

Dieqy Hasbi Widhana
Oleh Dieqy Hasbi Widhana - Reporter
Megawati: Jangan sampai lidah dan perut bangsa Indonesia terjajah
Konvensi Nasional Haluan Negara. ©2016 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menunjukkan bagaimana contoh pembangunan pada bidang pangan. Menurutnya harus ada upaya merancang agar Indonesia berdaulat di bidang pangan dari hulu ke hilir. "Bung Karno sendiri berulang kali menegaskan, jangan sampai lidah dan perut bangsa Indonesia terjajah. ‎Artinya, politik pangan dalam narasi ideologi pun sangat diperlukan agar Indonesia berdikari di bidang pangan,"‎ kata Megawati dalam acara Kovensi Nasional Tentang Haluan Negara di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (30/3). ‎ Maka dari itu dibuatlah buku 'Mustika Rasa'. Di dalamnya ada hasil riset selama 4 tahun menyoal bagaimana pangan lokal yang tersebar di nusantara memiliki gizi yang tinggi. "Buku tersebut tampak sederhana, sebagai buku resep masakan seluruh rakyat Indonesia. Buku tersebut sebagai penjabaran keputusan radikal revolusioner untuk mengubah menu rakyat yang berbasiskan beras, menjadi aneka sumber karbohidrat dari umbi-umbian. Bagaimana uwi, cantel, jagung, tales, suweg, garut, ganyong, pete, tempe, aneka sayur-mayur, keseluruhan varian buah-buahan, dan berbagai jenis ikan dan daging, ditampilkan lengkap dengan kandungan karbohidrat, glukosa, protein serta rancangan makanan yang bergizi untuk satu keluarga," jelasnya. ‎Menurut Megawati, untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat 105,45 juta penduduk, tahun 1965 direncanakan produksi padi 20,5 juta ton, ‎jagung 6,4 juta ton, umbi-umbian 15 juta ton, dan total produksi 41,9 juta ton."Jika sekarang penduduk kita kurang lebih 250 juta jiwa, maka kebutuhan produksi kurang lebih 100 juta ton," pungkasnya.

Rekomendasi