Kisah Bapak Kopassus Idjon Djanbi ditandu kejar Kartosuwiryo

Reporter : Ramadhian Fadillah | Jumat, 21 Juni 2013 06:15




Kisah Bapak Kopassus Idjon Djanbi ditandu kejar Kartosuwiryo
Idjon Djanbi. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - 12 Anggota Kopassus menjalani persidangan pertama di Pengadilan Militer Yogyakarta. Serda Ucok Tigor Simbolon, didakwa menjadi eksekutor yang menewaskan Dekky dkk di Lapas Cebongan. Rekan-rekannya didakwa karena membantu eksekusi itu.

Mereka menuntut balas kematian Serka Heru Santoso yang dihajar hingga tewas di Hugo's Cafe. Ucok hutang budi pada Serka Heru. Rasa jiwa korsa atau kebanggaan terhadap korps juga mendorong mereka menyerang. "Masak Kopassus kalah sama preman?"

Ada cerita menarik soal Bapak Kopassus Mayor Idjon Djanbi dan jiwa korsa ini. Mayor Idjon Djanbi adalah pensiunan Korps Speciale Troepen, pasukan komando Belanda. Nama aslinya Kapten Rokus Bernandus Visser.

Dia bersimpati pada perjuangan Republik Indonesia. Visser meninggalkan dinas ketentaraan, masuk Islam lalu mengubah namanya menjadi Mohammad Idjon Djanbi. Dia lalu menikah dengan wanita Sunda dan jadi petani bunga di Lembang.

Sekitar tahun 1952, Komandan Teritorium Siliwangi Kolonel Alex Evert Kawilarang bercita-cita mendirikan sebuah pasukan elite untuk menumpas Darul Islam/Tentara Islam Indonesia. Saat itu pasukan reguler sulit bergerak lincah di hutan Jawa Barat yang masih sangat lebat.

Kawilarang pun memanggil Idjon Djanbi dan memaparkan rencananya, sekaligus meminta Idjon menjadi pelatih. Idjon menerima tawaran itu. Maka dia menjadi pelatih sekaligus komandan pasukan elite yang awalnya bernama Kesatuan Komando TT III Siliwangi.

Latihan yang diberikan sangat berat. Dari 400 calon siswa komando, kurang dari setengah yang dinyatakan lulus. Tapi latihan berat itu juga yang membuat persaudaraan dan kebanggaan pada korps menjadi sangat besar. Jiwa korsa atau Esprit de corps terbentuk di setiap dada prajuritnya. Begitu juga Idjon Djanbi. Dia bangga melihat anak didiknya.

"Mayor Idjon selalu mendampingi pasukannya saat berlatih. Dia hampir tak pernah absen di lapangan," kata Nadi, salah seorang mantan anak buah Idjon kepada merdeka.com.

Setelah latihan, mereka ditugaskan untuk menangkap Kartosuwiryo, pemimpin DI/TII yang bergerilya di belantara Jawa Barat. Pasukan itu dipimpin Letnan Satu Fadillah. Mayor Idjon Djanbi turut serta bersama Komandan TT III Siliwangi Kolonel Kawilarang.

Dalam buku memoarnya, Kawilarang menceritakan pengejaran di bulan Oktober 1955 itu. DI/TII bukan gerilyawan sembarangan, mereka sudah bertahun-tahun hidup di hutan. Sebagian masyarakat juga mendukung gerakan itu sehingga mereka mudah bergerak.

Kawilarang menemukan fakta Kartosuwiryo selalu mendirikan kamp di tengah pepohonan bambu. Jadi saat musuh mendekat mereka tahu dari gesekan di rumpun bambu.

"Mayor MI Djanbi jatuh sakit dalam patroli ini dan harus digotong," beber Kawilarang.

Pengejaran itu sudah sangat dekat dengan Kartosuwiryo. Tapi saat itu nasib baik berpihak pada sang Imam. Banjir besar menghalangi pasukan Komando itu bergerak. Sebenarnya jika mereka menerjang maju, mungkin mereka bisa menangkap Kartosuwiryo.

"Kami tidak mau mengambil risiko. Beberapa bulan sebelumya dua anggota komando hanyut dalam suatu operasi," kata Kolonel Kawilarang.

Maka Kawilarang memutuskan meninggalkan tempat itu. Kartosuwiryo pun lolos.

Kartosuwiryo baru tertangkap 4 Juli 1962, tujuh tahun setelah patroli yang digelar Kawilarang dan Idjon Djanbi. Pasukan yang berhasil menangkap Kartosuwiryo Kompi C Batalyon 328 Kujang II/Siliwangi, di bawah Komandan Kompi Letnan Dua (Letda) Suhanda.

Kartosuwiryo diadili secara kilat dan ditembak mati di sebuah pulau di Kepulauan Seribu.

[ian]


JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG iREPORTER
LATEST UPDATE
  • Dipecat Demokrat, Ambar tuding Roy Suryo tak punya etika politik
  • Toyota Innova vs pemotor di Tol Jatiwarna, 1 tewas
  • Amir Mahmud, dulu dukung ISIS sekarang siap dukung Jokowi
  • Ratusan WNI di Australia ingatkan Jokowi cermat pilih menteri
  • Review: el real pancung rekor barca di bernabeu
  • Ditendang dari Demokrat, Ambar Tjahyono bakal tempuh jalur hukum
  • Fan meeting Running Man dihadiri fans asal Papua hingga Thailand
  • Tolak oral seks, kakek di Karawaci dibunuh kekasih sesama jenis
  • Hari kedua SoundsFair, Ipang sajikan energi luar biasa
  • BNN akui pengawasan narkoba di Riau masih lemah
  • SHOW MORE