Kepala BNPB: Latihan Kesiapsiagaan Bencana Asah Naluri Warga Bertahan Hidup

Menurut Doni, selama ini perempuan termasuk salah satu kelompok yang paling banyak menjadi korban bencana karena kurang pemahamannya akan risiko dan besarnya keinginan mereka untuk menolong keluarganya, namun belum memiliki kapasitas yang memadai.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Kepala BNPB: Latihan Kesiapsiagaan Bencana Asah Naluri Warga Bertahan Hidup
Kepala BNPB Doni Monardo di Pantai Binuangen. ©2019 Merdeka.com

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan bahwa Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) mengedepankan aksi nyata seperti pemeriksaan keberadaan dan keberfungsian kelengkapan sarana dan prasarana keselamatan, seperti adanya rambu dan jalur evakuasi yang aman serta titik kumpul, tersedianya alat pemadam api, manajemen keselamatan bangunan-bangunan bertingkat, dan sebagainya.

"Juga melatih evakuasi dengan tenang dan tidak panik merupakan kunci keberhasilan dalam menghadapi ancaman bencana," ujar Doni dalam sambutannya di upacara HKB yang berlangsung di Sesko TNI AU, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat, (26/4).

Melalui latihan kesiapsiagaan bencana, BNPB mengharapkan masyarakat dapat mengasah naluri untuk dapat bertahan hidup dan menyelamatkan diri pada saat bencana melanda tempatnya. Nilai itu yang berusaha BNPB usung pada HKB dengan slogan 'Siap Untuk Selamat.' Menurut Doni latihan siap siaga bencana harus dimulai dari diri sendiri, keluarga dan komunitas.

"Pendidikan paling dini wajib dilakukan mulai dari rumah. Untuk itu peran ibu dan perempuan menjadi sangat penting. Menyadari hal tersebut, pada tahun 2019 ini kita memilih tema 'Perempuan Sebagai Guru Kesiapsiagaan dan Rumah Sebagai Sekolahnya'", paparnya.

Menurutnya, selain sebagai aktor dalam pendidikan dini sorang anak, perempuan juga dipilih karena memiliki sifat melindungi yang tinggi

"Aktif dalam kelompok sosial dan komunitas dan juga merupakan sosok pembelajar," kata Doni.

Sementara itu, menurut Doni, selama ini perempuan termasuk salah satu kelompok yang paling banyak menjadi korban bencana karena kurang pemahamannya akan risiko dan besarnya keinginan mereka untuk menolong keluarganya, namun belum memiliki kapasitas yang memadai.

Reporter: Yopi Makdori

Rekomendasi