Kementerian Agama Temukan Dua Pesantren Berpotensi Terpapar Radikalisme

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin menuturkan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menemukan 16 pesantren yang terpapar radikalisme. Namun setelah Kementerian Agama melakukan penelitian, jumlahnya tidak sebanyak temuan BNPT.

Intan Umbari Prihatin
Oleh Intan Umbari Prihatin - Reporter
Kementerian Agama Temukan Dua Pesantren Berpotensi Terpapar Radikalisme
Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin. ©2019 Merdeka.com/Intan Umbari Prihatin

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin menuturkan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menemukan 16 pesantren yang terpapar radikalisme. Namun setelah Kementerian Agama melakukan penelitian, jumlahnya tidak sebanyak temuan BNPT.

"Kalau terkait pesantren radikal itu kita masih, hasil yang disampaikan BNPT itu, teman-teman litbang Kemenag mengatakan tidak sebanyak itu. Jadi masih berpotensi, terindikasi tapi belum ke arah situ, dan itu hanya dua (pesantren)," kata Kamaruddin Amin di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa (26/11).

Dari hasil penelitian Kemenag, ada sejumlah indikasi pesantren terpapar radikalisme. Pertama, para santrinya mayoritas setuju mengganti Pancasila. Ini dikategorikan intoleran.

"Ada juga pertanyaan apakah setuju pemimpin nonmuslim? Ada yang setuju dan tidak setuju, mungkin itu bisa dikategorikan intoleran," ungkap Kamaruddin.

Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suaib Tahir menyebutkan, pihaknya terus memaksimalkan upaya pencegahan penyebaran paham radikal dan teroris di Indonesia. Salah satunya melawan radikalisme dengan memanfaatkan pesantren.

"Tahun ini kami bergerak di pesantren-pesantren karena di tempat itu sangat memiliki potensi untuk melawan narasi pemikiran radikal," katanya dalam diskusi dan peluncuran buku 'Memberantas Terorisme di Indonesia: Praktik, Kebijakan, dan Tantangan', di Hotel Atlet, Jakarta Pusat, Selasa (20/8).

Upaya pencegahan meluasnya paham radikal dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya sosialisasi, seminar, workshop dan lain sebagainya.

"Rakyat masih ada yang rentan terkena atau terpapar terorisme. Tidak ada masyarakat yang tidak rentan radikalisme dan terorisme. Itu banyak buktinya, karena itu kami juga mengoptimalkan upaya sosialisasi, seminar, workshop dan lain-lain," ujarnya.

Rekomendasi