Ibu masih jadi sasaran kekerasan dalam rumah tangga

Suami dengan ringan tangan, memukul hingga menyiksa istri lantaran persoalan penghasilan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Ibu masih jadi sasaran kekerasan dalam rumah tangga
Ilustrasi perkosaan, pelecehan seksual, pencabulan. ©2012 Merdeka.com/Shutterstock

"Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku, anakmu. Ibuku sayang, masih terus berjalan, walau telapak kaki penuh darah penuh nanah."

Sepenggal syair dari lagu ciptaan musisi besar Iwan Fals tersebut, mungkin dapat menggambarkan begitu besarnya jasa seorang Ibu untuk anaknya. Sebagai seorang perempuan, sosok Ibu adalah pahlawan tanpa bintang tanda jasa.

Tanggal 22 Desember setiap tahunnya, diperingati sebagai hari ibu nasional. Sebagai momentum untuk mengenang segala pengorbanan dan jasa wanita mulia itu.

Meski menyandang status mulia, tak jarang tindakan tidak terpuji atau pelecehan, sering diterima seorang ibu.

"Termarjinalkan dan resources, nilai tadi ke patriarki argumen (sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai otoritas utama) kepada kesejahteraan gender," kata anggota Komisi III DPR Eva Kusuma Sundari di komplek parlemen, Senayan Jakarta, Jumat (21/12).

Menurut politisi PDIP tersebut, aksi pemerintah masih diragukan dalam memberikan perlindungan, dan keberpihakan kepada ibu atau perempuan. Hal itu terbukti dari tidak berimbangnya kemajuan ekonomi negara dengan perhatian kepada para ibu.

Sebagai contoh, lanjut Eva, sektor pertambangan, Indonesia merupakan urutan besar negara produsen hasil tambang. Namun di sisi lain, penjualan tenaga kerja wanita ilegal semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Selain itu, persoalan ekonomi juga menjadi momok mengerikan untuk para Ibu. Kekerasan dalam rumah tangga, kerap diterima lantaran suami dengan ringan tangan, memukul hingga menyiksa istri lantaran persoalan penghasilan.

"Komnas Perempuan mencatat, meningkat kasus KDRT disebabkan tekanan ekonomi, politik pembangunan yang tidak ramah terhadap perempuan, laki yang sulit menerima kenyataan ekonominya," lanjut Eva.

Tidak cukup di situ, terkuaknya kasus nikah kilat Bupati Garut Aceng HM Fikri, juga menjadi bukti bahwa perempuan merupakan 'korban'.

Ke depan, Eva mengajak supaya para ibu memiliki pemikiran yang kritis. Sudah saatnya perempuan Indonesia bangkit, dan memperjuangkan haknya.

Rekomendasi