Dodaidi, seni tutur di Aceh yang disampaikan oleh setiap orang tua sebagai pengantar tidur anaknya kian tergerus dengan modernisasi. Sekarang banyak muda-mudi sudah melupakannya.Bahkan ibu-ibu muda sekarang nyaris tidak lagi menggunakan seni tutur dodaidi itu sebagai pengantar tidur anak-anaknya. Mirisnya ada anggapan dodaidi itu ketinggalan zaman dan terlalu kampungan. Terutama kesan itu bagi warga yang tinggal di perkotaan.Atas dasar itu, Dinas Pendidikan Aceh sedang menggarap sebuah film berbentuk feature berceritakan tentang Dodaidi tersebut. Pembuatan film ini juga untuk melestarikan seni tutur itu yang nyaris dilupakan oleh banyak masyarakat Aceh.Kepala Balai Tekkomdik Dinas Pendidikan Aceh, Zulkarnaini menjelaskan digarapnya film dodaidi tersebut mengingat akhir-akhir ini sudah jarang dimanfaatkan oleh masyarakat Aceh secara umum. Sehingga dengan produksi film ini, siswa dan siswi di Aceh dapat mengenal budaya asli yang berkembang di Aceh. Karena pesan dalam dodaidi itu memberi makna betapa besar rasa kasih sayang, tanggung jawab dan harapan orangtua dalam mengasuh anaknya."Karena, dalam kultur adat Aceh, anak dalam rumah tangga atau keluarga salah satunya anak sebagai sunnatullah, hasil kekuatan rasa kasih sayang suami istri (mu’asyarah bil ma’ruf) sebagai mawaddah dan rahmat Allah SWT untuk memperkuat bangunan hubungan rumah tangga yang rukun damai, bahagia dan sejahtera sesuai dengan nilai-nilai Islami," tuturnya.Dikatakan dia, dodaidi tersebut sebagai motivasi terhadap anak, terutama dalam mempersiapkan kehidupan generasi kita, baik dunia maupun akhirat. Berdasarkan penelusuran pihaknya, hampir di seluruh daerah di Aceh, memiliki seni tutur tersebut dengan masing-masing versi.Di samping itu, sambung dia, sebagai penyambung hubungan naluri batiniah dan jasmaniah antara orang tua dengan anak-anaknya dapat ditemukan dalam nuansa ungkapan pantun-pantun atau yang dikenal dengan peurateb aneuk (menina bobok anak) dengan Dodaidi."Dahulunya, dodaidi ini merupakan sebuah kebiasaan kaum ibu di gampong-gampong. Seorang ibu sambil mengayun-ayunkan ayunan bayi menuturkan syair-syair yang penuh pesan moral," sambungnya.Ia menambahkan, pesan dan bimbingan itu secara naluri membuat anak terbuai nikmat dalam ayunan. Nilai pesan itu mengandung makna bahwa seorang anak harus bersiap membangun hari depan dan bertanggung jawab dengan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhinya kepada agama dan orangtuanya."Tali hubungan itu akan terbina akrab, manakala yang mengasuhnya adalah ibu kandungnya sendiri," tambah Zulkarnaini.
Dodaidi, seni tutur pengantar tidur anak di Aceh mulai dilupakan
Ibu-ibu muda sekarang nyaris tidak lagi menggunakan seni tutur dodaidi itu sebagai pengantar tidur anak-anaknya.
Rekomendasi