Booming ojek online, ojek sepeda onthel makin di ujung tanduk

Wastaf (40) tukang ojek onthel ini mengungkapkan pusingnya mencari uang dari menjual jasa mengayuh sepeda.

Muchlisa Choiriah
Oleh Muchlisa Choiriah - Reporter
Booming ojek online, ojek sepeda onthel makin di ujung tanduk
Ojek sepeda. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman

Belakangan ini keberadaan ojek berbasis aplikasi online sedang booming di masyarakat Indonesia. Sejak awal kemunculannya, perseteruan dengan ojek pangkalan hingga penghasilan para pengemudi ojek online yang disebut fantastis selalu menjadi bahan berita.Ojek online yang di motori GO-JEK seolah menjadi sebuah penemuan baru di bidang transportasi yang hari ini sangat digandrungi warga, terutama di Ibu Kota. Tarif yang murah, cepat serta mudah membuat transportasi ini menjadi alternatif di tengah buruknya moda transportasi yang tersedia.Namun ojek online sempat dipersoalkan oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan beberapa waktu lalu. Jonan menyebut ojek online ilegal sehingga harus dilarang keberadaannya.

Ojek sepeda di Tanjung Priok ©2016 Merdeka.com/Muchlisa Choiriah

Jonan berkaca dari UU yang menyebut bahwa kendaraan roda dua buklan sarana transportasi umum. Meski motor roda dua legal, tetapi menjadi ilegal jika dijadikan sarana transportasi umum.Namun apa yang disampaikan Jonan itu segara membuat publik geram. Jonan pun habis-habisan dikritik bahkan oleh Presiden Jokowi. Meski tidak terwadahi dalam aturan, bukan berarti keberadaan ojek online harus diberangus.Namun di tengah perseteruan soal boleh tidaknya ojek online, ada ojek lain yang justru nasibnya kini berada di ujung tanduk. Meski sempat ngetrend di beberapa wilayag di Jakarta pada tahun 70 hingga 90an, ojek yang satu ini kini mulai dilupakan.

Ojek sepeda onthel. Ojek ini bisa disebut bapak moyangnya ojek di Indonesia. Sejak ramai pada tahun 1970 di kawasan Tanjung Priok, ojek ini kini perlahan mulai mati. Satu persatu pengojek yang mengandalkan ketahanan dan kekuatan fisik ini mulai ditinggalkan penumpang dan pengemudinya. Pacalan kaki sang pengayuh tak lagi bisa menandingi mesin motor.Keberadaan ojek sepeda onthel di Ibu Kota dimulai sekitar tahun 1970an. Ojek yang mengandalkan sepeda kumbang atau onthel ini menjadi favorit di Tanjung Priok setelah Gubernur Ali Sadikin sempat mengeluarkan larangan becak dan bemo masuk pelabuhan. Aturan ini menjadi pintu masuk bagi usaha ojek onthel saat itu untuk menjadi alternatif transportasi jarak pendek. Sejak saat itu ojek sepeda menjadi semarak. Banyak orang-orang dari daerah yang kemudian berhijrah ke Ibu kota dengan modal sepeda kebo atau kumbang menjual jasa sebagai tukang ojek.

Ojek sepeda di Tanjung Priok ©2016 Merdeka.com/Muchlisa Choiriah

Namun seiring murahnya motor, ojek ini makin jauh ditinggalkan. Tengok saja di pinggir Jalan RE Martadinata, Tanjung Priok, Jakarta Utara, makin hari semakin sedikit tukang ojek sepeda di sana. Wastaf (40) tukang ojek onthel ini mengungkapkan pusingnya mencari uang dari menjual jasa mengayuh sepeda. pendapatanya dari tahun ke tahun semakin menurun.

"Saya sudah bekerja sejak tahun 1992. Kurang lebih 15 tahun lah sebagai pengayuh ojek onthel. Makin ke sini penghasilan makin bikin ngelus dada melulu," kata Wastaf kepada merdeka.com, Sabtu (2/1) kemarin.Wastaf menjelaskan, semenjak tahun 2000 an, penghasilannya tak pernah sampai Rp 50 ribu perhari. Padahal dulu, dia bisa mengantongi lebih dari Rp 70.000 perharinya."Dulu mah banyak yang ngojek, apalagi anak sekolah kalau berangkat pada naik ojek onthel. Sekarang paling sehari cuma 3-4 penumpang. Tiap penumpang bayarannya dari Rp 5.000 sampai Rp 20.000. Mereka lebih memilih menggunakan ojek sepeda motor pangkalan sama ojek online," ungkapnya dengan sendu.Dari penghasilannya yang tak seberapa itu, Pria asal Brebes, Jawa Tengah, ini harus bisa memenuhi kebutuhan hidup untuk makan sehari-hari serta biaya tempat tinggal kos seharga Rp 100.000 tiap bulannya. Ini yang mengurungkan niat Wastaf untuk mempunyai istri apalagi anak.

Ojek sepeda di Tanjung Priok ©2016 Merdeka.com/Muchlisa Choiriah

"Sampai saat ini saya belum punya istri apalagi anak. Jadi ya mau ngapa-ngapain serba sendiri. Saya udahlah engga usah nikah, kasihan nanti istri sama anak saya mau makan apa. Mending saya hidup sendiri. Takut engga bisa kasih nafkah," paparnya.Hal miris pun diungkapkan oleh Udin (50) yang juga berprofesi sebagai ojek onthel. Udin yang sudah hampir 20 tahun lebih mengayuh sepeda onthel warna hitam ini sering kebingungan untuk memenuhi kebutuhan hidup anak dan istrinya."Kalau saya sudah nikah. Istri dan dua anak saya di kampung. Penghasilan ojek onthel cuma bisa makan doang, makanya kadang saya mohon-mohon jadi kuli bangunan ke temen sekitar," ungkapnya.

"Saya punya istri di kampung, dia kerja sebagai nelayan di sana. Saya juga punya dua anak lelaki, yang satu masih kelas 5 SD, yang satu kelas 2 SMK. Meski istri kerja, saya engga bisa lepas tanggung jawab. Saya harus kirim uang ke kampung. Makanya di sini kalau pelanggan sepi, saya cari kerja apapun asal halal. Itu demi keluarga," papar Udin.Tahun baru, tambah pria lulusan SMP ini, penumpang semakin sepi. "Hari ini aja saya baru bawa satu penumpang. Itu juga dari depan gang ke rumahnya. Cuma Rp 5.000. Sepi banget tahun baru. Makin pusing saya," tutupnya.

Wastaf dan Udin mulai mencari penumpang sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Mereka biasanya mengantar penumpang di sekitar Jalan Swasembada, Kebun Bawang, Plumpang Raya, hingga Terminal Tanjung Priok.Meski banyak persaingan dengan alat transportasi lain, mereka yakin tiap-tiap orang memiliki rezeki masing-masing.

Rekomendasi