Berantas pornografi, Menkominfo gandeng Din Syamsuddin & Gus Sholah

Dengan ketokohan mereka, Rudi yakin pemblokiran situs bisa mencegah pandangan negatif masyarakat.

Kresna
Oleh Kresna - Reporter
Berantas pornografi, Menkominfo gandeng Din Syamsuddin & Gus Sholah
Menkominfo Rudiantara. ©2015 Merdeka.com/Kresna

Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara menggandeng puluhan tokoh masyarakat untuk memberangus situs-situs dengan konten yang meresahkan seperti pornografi, SARA dan lainnya. Para tokoh masyarakat tersebut nantinya akan masuk dalam panel sesuai dengan bidang ketokohannya dan bertugas memberikan rekomendasi pada Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) untuk memblokir suatu situs."Panel itu total ada 40 sampai 50 orang tokoh masyarakat, mereka nanti yang akan merekomendasikan dan menilai suatu situs apakah harus diblok atau tidak," katanya saat kopi darat dengan netizen di Yogyakarta, Minggu (22/3).Menurutnya, panel tersebut dibentuk supaya tidak ada omongan miring terkait dengan situs-situs yang di blok oleh pemerintah."Masalahnya begini, ada laporan situs ini SARA, lalu saya menilai, oh ini SARA atau pornografi, blokir! Orang akan komentar itu siapa Rudiantara, tahu apa dia soal SARA, tahu apa dia soal pornografi. Tapi kalau yang bicara itu tokoh masyarakat, maka akan bisa dipahami dan diterima," ungkapnya.Sementara itu sejumlah tokoh yang sudah berhasil diajak bergabung oleh Rudiantara di antaranya Din Syamsuddin, Gus Sholah, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, Prof Cipta Lesmana dan beberapa tokoh lainnya."Kalau soal SARA nanti ada tokohnya, soal anak-anak nanti ada tokohnya. Tapi panel ini sifatnya fleksibel, kalau perlu ditambah ya ditambah, yang terpenting ada keterlibatan stake holder," tandasnya.Sementara cara kerja panel nantinya berdasarkan pengaduan dari masyarakat. Masyarakat bisa mengadu dengan mengirimkan aduan ke aduankonten@mail.kominfo.go.id.Tak hanya menggandeng tokoh masyarakat, Rudi juga mengajak netizen dan start up di Yogyakarta ikut mengembangkan industri Teknologi Informatika. Hal tersebut diungkapkan Rudiantara ketika mengadakan kopi darat bersama sejumlah netizen dan industri start up.Dia mengungkapkan dunia dan masyarakat telah berubah seiring dengan perkembangan teknologi. Karena itu, industri di bidang IT juga harus turut dikembangkan."Lima belas tahun lalu orang kalau mudik bawa uang, emas, sekarang orang kalau mudik bawanya handphone, gadget. Sudah berubah, dan ini harus kita respon dengan baik," katanya.Menurutnya industri IT saat ini di Indonesia masih kurang. Hampir semua produk gadget diproduksi oleh negara lain, sementara Indonesia hanya sebagai konsumen saja."Coba gadget apa yang kalian pakai? Sony buatan Amerika, Xiaomi buatan China, Samsung buatan Korea. Kalau kita beli itu, duitnya larinya ke luar negeri. Kita enggak kebagian apa-apa," ujarnya.Untuk menjaga supaya peredaran uang tersebut tidak hanya mengalir ke luar negeri, dia pun meminta sejumlah industri IT di Indonesia untuk membuat design produk dan kemudian dipatenkan."Di Polytron, saya ke sana di pabriknya di Kudus. Saya minta mereka bikin design untuk dipatenkan. Jadi nanti minimal kalau ada yang pakai design itu, kita bisa dapat royalty," ungkapnya.Sementara itu untuk perusahaan start up, dia berjanji akan membuatkan wadah inkubasi supaya bisa berkembang dengan pesat."Bandung dan Yogya ini gudangnya industri kreatif. Kalau kita bisa bikin inkubasi untuk start up, uang kita gak perlu lari ke luar negeri. Orang sekarang pakai paypal, yang untuk bukan kita, enggak ada pajaknya," tandasnya.

Rekomendasi