Bengawan Solo Tercemar Limbah Alkohol, 3 Instalasi Pengolahan Air Setop Beroperasi

Kondisi Bengawan Solo berwarna hitam. Tampak beberapa ikan mati di tepi sungai. Ikan-ikan mati diduga karena limbah alkohol tersebut.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Bengawan Solo Tercemar Limbah Alkohol, 3 Instalasi Pengolahan Air Setop Beroperasi
Sungai Bengawan Solo tercemar alkohol. ©2019 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Aliran sungai Bengawan Solo kembali tercemar limbah. Pencemaran yang terjadi kali ini lebih parah dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut mengakibatkan tiga Instalasi Pengolahan Air (IPA) Perumda Air Minum Toya Wening Surakarta harus menghentikan operasionalnya.

Ketiga IPA yang tak bisa beroperasi tersebut terletak di Kelurahan Semanggi, Jurug dan Jebres. Untuk diketahui, IPA Semanggi yang menyalurkan air untuk wilayah Solo bagian selatan, telah menghentikan pengolahan air sejak kemarin. Sedangkan hari ini, giliran IPA Jebres dan Jurug ikut berhenti beroperasi.

Kondisi Bengawan Solo berwarna hitam. Tampak beberapa ikan mati di tepi sungai. Ikan-ikan mati diduga karena limbah alkohol tersebut.

"Kami telah mengambil sampel limbah berwarna hitam pekat. Kemarin lebih parah, warnanya hitam pekat, baunya alkohol," ujar petugas intake IPA Semanggi, Purnomo, Jumat (1/11).

Pencemaran air tersebut diduga berasal dari limbah industri di Sukoharjo. Kondisi tersebut sudah terjadi beberapa kali. Namun kali ini yang paling parah, karena sudah dua hari terjadi.

Terpisah, Kepala Urusan Produksi IPA Semanggi, Basir, mengemukakan, limbah alkohol tersebut dibuang dari industri warga di Kali Samin, Sukoharjo yang kemudian mengalir ke sungai Bengawan Solo. Meski sungai tersebut kering, namun diduga terjadi hujan di bagian hulu. Sehingga endapan alkohol ikut terbawa hingga ke Bengawan Solo.

"Mungkin terbawa hujan dan sampai di Bengawan Solo," katanya.

Untuk IPA Jurug dan Jebres, pihaknya belum mengetahui penyebabnya. Apakah bersumber dari pencemaran sungai Samin yang mengandung alkohol atau lainnya. Kendati demikian, dia memastikan kualitas air sungai di kedua IPA tersebut di bawah baku mutu.

"Kami masih harus mengambil sampel di intake IPA Jurug dan Jebres, ternyata kualitas airbags juga di bawah baku mutu," imbuh Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi Perumda Toya Wening, Bayu Tunggul.

Akibat kondisi tersebut, ada sekitar 18 ribu pelanggan air minum Perumda Toya Wening yang ikut terdampak. Namun mereka masih bisa memperoleh layanan air yang bersumber dari sumur dalam ataupun mata air Cokro Tulung.

"Untuk wilayah IPA Jebres, masih ada sumur dalam yang bisa dioperasikan. Tapi untuk pelanggan IPA Jurug sudah tidak bisa, karena disana tidak ada sumur dalam," jelasnya.

Sementara untuk pelanggan IPA Semanggi masih bisa memperoleh layanan air dari Cokro Tulung meskipun hanya sedikit.

" Untuk sementara kami akan mengirimkan tangki air ke pemukiman warga," tutupnya.

Rekomendasi