Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Badan Pangan Nasional Soroti Distribusi Minyak Goreng Curah Masih Lamban

Badan Pangan Nasional Soroti Distribusi Minyak Goreng Curah Masih Lamban Ilustrasi minyak goreng. Shutterstock/Aleksandrs Samuilovs

Merdeka.com - Minyak goreng curah dengan harga Rp14 ribu per liter, rupanya masih cukup langka di pasaran. Badan Pangan Nasional terus berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian agar distribusi minyak goreng dipercepat.

"Karena barangnya (minyak goreng curah) ada. Registrasi produsen juga sudah. Tinggal didorong secepatnya masuk ke pasar dan harganya itu Rp14 ribu per liter," kata Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa (12/4).

Menurutnya, apabila sadar dengan distribusi yang masih lamban, maka pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) minyak goreng dicarikan secepatnya dengan cara diberikan sekaligus di muka.

Sejatinya penyaluran BLT minyak goreng sebesar Rp100 ribu per bulan selama tiga bulan dimulai April ini. Namun, kebijakan yang terakhir diambil yakni langsung diberikan sekaligus tiga bulan atau Rp300 ribu dalam satu waktu.

"Ini untuk membantu masyarakat sebanyak 20,6 juta orang plus 2,5 juta Pedagang Kaki Lima (PKL). Karena disadari minyak goreng curah barangnya belum cepat masuk," kata Arief.

Selain percepatan distribusi minyak goreng, Arief juga mendorong percepatan pasokan daging jelang Idul Fitri. Selain untuk mencukupi kebutuhan, sekaligus menstabilkan harga, agar tidak melonjak drastis.

"Di Pasar Cibinong ini harga daging sapi Rp130-140 ribu per kilogram. Yang harus dikerjakan cepat yaitu masuknya daging kerbau untuk memberi pilihan ke masyarakat karena harganya bisa di bawah Rp100 ribu," kata dia.

Selain itu, alternatif lainnya yakni meningkatkan mobilisasi sapi hidup dari beberapa sentra ternak di Indonesia dengan harapan, stok daging aman dan harga dapat dikendalikan dengan baik.

Sementara Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan mengungkapkan, kenaikan harga pada sejumlah komoditas, tidak lepas dari pengaruh global.

Selain minyak goreng dan daging, ada pun harga kedelai hingga telur ayam yang cenderung meningkat belakangan ini. Untuk kedelai, kata dia, dipengaruhi tingginya biaya logistik mengingat harus diimpor.

"Jadi pemerintah menyiapkan subsidi untuk harga. Yakni Rp1.000 rupiah. Jadi harga perlu disesuaikan tapi kami berikan subsidi untuk meringankan beban UMKM perajin tahu tempe yang mencapai 155 ribu UMKM," kata Oke.

Sementara kenaikan harga telur cenderung dipengaruhi oleh melonjaknya harga pakan ayam. "Kami juga bantu peternak dengan 50 ribu ton pakan ayam. Saat ini, telur ayam Rp24 ribu per kilogram tapi biaya produksinya Rp21 ribu. Nanti ke depan kita akan berikan bantuan subsidinya juga," katanya.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP