Orang-orang Samin hidup di pedalaman hutan Blora. Daripada mencari kekayaan dan kesejahteraan ekonomi, mereka justru memilih jauh dari gemerlap kehidupan duniawi. Mereka tetap bertahan meski gempuran era modernisasi hampir sulit terelakkan.
Perkampungan orang Samin itu terletak di Dusun Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Blora. Kebanyakan orang Samin di sana hidup dari sektor pertanian. Dikutip dari kanal YouTube Jejak Richard, prinsip mereka dalam mengelola lahan tani hanyalah untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Dalam kesempatan itu, tim Kanal YouTube Jejak Richard berkesempatan menemui Mbah Lasio, sesepuh orang-orang Samin. Mbah Lasio mengungkapkan filosofi hidup orang Samin yang berbeda dari kelompok masyarakat pada umumnya. Berikut selengkapnya:
Advertisement
Pakaian orang Samin memiliki ciri khas berupa topi ikat kepala serta baju dan celana yang berwarna serba hitam. Biasanya pakaian itu dikenakan saat acara sarasehan rutin yang digelar tiap malam Selasa Kliwon.
Mbah Lasio mengungkapkan makna filosofi pakaian ini. Dia mengatakan, topi ikat kepala dimaknai untuk mengikat tingkah laku yang kurang baik. Sementara itu pakaian hitam dimaknai kalau setiap individu itu tidak ada yang bersih.
“Adat istiadat itu jangan sampai hilang, soalnya itu peninggalannya leluhur. Kita ini hanya penerusnya leluhur,” kata Mbah Lasio dikutip dari kanal YouTube Jejak Richard.
Advertisement
Mbah Lasio mengatakan, orang Samin memiliki ajaran tertentu yang diwariskan secara turun-temurun agar tidak ditinggalkan. Namun dalam budayanya ajaran itu baru bisa diberikan kalau seseorang itu sudah berusia di atas 30 tahun.
“Kalau bocah belum umur 30 tahun hanya dibilangin, sama saudara sendiri jangan bertengkar. Yang penting kamu jujur, kalau bukan hakmu ya jangan diakui itu hakmu,” ujar Mbah Lasio.
Jauh dari Gemerlap Duniawi
Bagi Mbah Lasio, rumah-rumah orang Samin itu pada dasarnya hanya boleh beralaskan tanah. Hal ini berdasarkan kepercayaan leluhur bahwa mereka tidak boleh meninggalkan tanah karena kelak saat mati akan kembali ke tanah. Selain itu orang-orang Samin juga diajarkan untuk hidup jauh dari gemerlap duniawi.
“Orang kalau bisa jangan ikut gemerlapnya alam dunia. Kalau bisa hidup berdasakan hati, seperti itu jalan hidup kita,” kata Mbah Lasio.
Advertisement
Di tengah perkampungan orang Samin itu, berdiri sebuah musala yang cukup sederhana. Saat Bulan Ramadan, musala itu digunakan untuk salat jamaah dan juga tarawih.
Selain itu ada pula beberapa warga yang menggunakan musala itu sebagai tempat mengaji. Saat tim kanal YouTube Jejak Richard mengunjungi musala itu, tampak salah seorang warga di perkampungan itu sedang mengaji.
“Alhamdulillah musala ini berdiri atas sumbangan orang banyak, terus ini diberi keramik. Dulu alasnya ini dari papan kayu. Terus ini ada sumbangan keramik dari Pak Bupati dua tahun lalu,” kata Mbah Waijah, salah seorang warga yang sedang mengaji di musala itu.