Yuli (42) sebelumnya tak pernah menyangka bakal berurusan dengan polisi. Dia dilaporkan oleh wali murid berinisial MB ke polisi, dengan delik aduan melakukan perbuatan tidak menyenangkan."Saya tidak menyangka permasalahannya bisa melebar seperti ini," kata Yuli mengawali pembicaraan dengan merdeka.com, Jumat (25/12).Permasalahan melilit Yuli bermula saat anaknya, W (6), bermain perosotan bersama teman-temannya di sekolah TK Advent XI Remidi, Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Saat itu, tanpa sengaja, W yang berada di atas perosotan, meluncur dan menabrak kawannya, C, hingga menangis.Melihat anaknya berbuat kesalahan, Yuli yang baru datang menjemput segera menyuruh W meminta maaf kepada C dan ibunya, MB. Meski waktu itu Yuli yakin tidak ada luka yang dialami C, tetapi permintaan maaf bocah ini dibalas dengan kemarahan MB."Aku enggak peduli, anakku nakal enggak apa-apa dimarahi. Asal wajar-wajar saja," ujar Yuli.Seolah tidak puas, MB akhirnya melabrak Yuli. MB yang tak terima melihat anaknya menangis, juga memarahi Yuli. Saat itu, Yuli dalam posisi duduk, sedangkan MB memarahi sambil berdiri.
Advertisement
Karena tak ingin memperpanjang masalah, Yuli akhirnya memanggil C dan menanyakan kondisinya. Namun saat datang, si C malah mengaku baik-baik saja. Hal inilah yang diduga membuat emosi MB semakin meninggi.Keributan pun berlangsung hingga kedua pihak sepakat membawa si anak ke rumah sakit. Namun belum semuanya berakhir, Yuli mengaku tak terima saat anaknya tiba-tiba disebut bisa menghilangkan nyawa orang lain."Anak gue bisa mati tiap hari dipukulin terus," kata Yuli menirukan kalimat MB.Hari berikutnya, saat rapat dengan kepala sekolah, Yuli menyampaikan permasalahan yang dialaminya dengan MB. Namun Yuli tidak puas dengan jawaban pihak sekolah. Dia diminta memaklumi mengingat keluarga MB mempunyai posisi penting di yayasan yang menaungi sekolah itu.Permasalahan keduanya malah melebar melibatkan wali murid lain berinisial V. Keikutsertaan V diduga dimulai ketika MB 'berkicau' soal kelakuan Yuli lewat SMS. Awalnya V tak menghiraukan, sampai akhirnya ikut emosi lantaran diduga disebut dengan ejekan tak pantas.Karena tidak ingin memperpanjang masalah, Yuli bersama V berinisiatif silaturahmi ke rumah MB yang tinggal bersama mertuanya. Bukannya selesai, pertemuan tersebut justru membuat hubungan mereka runyam.
Advertisement
Bahkan MB dan V hampir saling pukul, hingga akhirnya dilerai oleh Yuli. Tidak ada kesepakatan damai dari pertemuan tersebut.Hingga hari selanjutnya, Yuli dan V sedang menjemput anak-anaknya diinterogasi oleh dua orang yang mengaku saudara MB. Kedua orang ini meminta Yuli dan V tidak lagi mempermasalahkan lebih lanjut dan meminta maaf ke MB."Saya enggak masalah kalau meminta maaf, tetapi tidak jika harus menghamba," terang Yuli.Tidak cuma itu, Yuli juga didatangi seseorang mengaku anggota polisi. Yuli masih ingat, selain dia, saat itu ada juga wakil kepala sekolah. Tidak jauh beda dari dua orang sebelumnya, anggota polisi ini menawarkan perdamaian."Yang saya sesalkan, kenapa terjadi di sekolah. Dilihat sama anak-anak. Bahkan anak saya yang kecil sampai menangis di gendongan," ucap Yuli.Kejadian dialami Yuli terus berlanjut di hari berikutnya. Kali ini, lima orang asing tiba-tiba bergerombol di depan sekolahan. Meski tidak lagi ditanyai, tetapi gelagatnya membuat Yuli diselimuti rasa cemas.Puncaknya adalah ketika Yuli dan V dilaporkan ke polisi oleh MB, atas dugaan perbuatan tidak menyenangkan. Pada Senin (28/12) pekan depan, Yuli dan V mendapat undangan pemeriksaan dari Polres Jakarta Selatan.
Advertisement
Hanya yang membuat Yuli heran, meski namanya ada dalam surat panggilan, tetapi sejauh ini Yuli belum mendapat surat panggilan. Sebab memang baru V yang mendapatkannya. Yuli bersedia menempuh jalan hukum dan berharap permasalahannya segera selesai.