Kisah Bang Ali bangun Jakarta dari judi dan bir

Keputusan Ahok untuk mendapat pemasukan dari produsen bir menuai kecaman, tapi dia tak mau tinggal diam.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap- Reporter
Kisah Bang Ali bangun Jakarta dari judi dan bir
Ali Sadikin. ©2012 Merdeka.com

Kisruh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dan DPRD, yang berkepanjangan telah berdampak pada terkatung-katungnya APBD DKI tahun anggaran 2015. Sudah berbagai cara dilakukan, tapi belum ada tanda-tanda akan segera cair.Sempat ada kepastian setelah evaluasi bersama pada rancangan pagu anggaran 2015 dilakukan bersama Ahok, sapaan Basuki, DPRD dan Kemendagri. Saat itu dikatakan paling lambat pencairan dilakukan 20 April mendatang.Tapi belakangan itu belum dapat dipastikan pula. Penyebabnya banyak koreksi yang dilakukan Kemendagri salah satunya soal target pendapatan belanja melalui minuman beralkohol yang mencapai triliunan.Kala itu Ahok diprotes karena kebijakannya itu tak sejalan dengan langkah pemerintah yang bakal mengawasi ketat peredaran minuman beralkohol di Tanah Air."Kami catat sudah tidak boleh terima retribusi dan pendapatan dari izin tempat penjualan miras lagi, tetapi kenapa masih mencantumkan target pendapatan Rp 1,3 triliun?" terang Dirjen Keuangan Daerah Kemendagri, Reydonnyzar.Mendapat teguran demikian Ahok protes. Sebab salah satu pendapat DKI Jakarta memang dari produsen bir."Kami punya saham, kita lanjut aja, bir salah di mana? Ada orang mati karena minum bir? Orang mati kan minum oplosan cap topi miring lah, apalah macem-macem, spiritus campur kelapa muda. Ada enggak ada orang mabok karena bir," protes Ahok saat itu.Rupanya ucapan kemarahan Ahok saat itu dianggap senjata bagi pihak yang berseberangan. Ahok dianggap asal bicara dan merusak generasi bangsa.Ahok pun tak tinggal diam. Dia membalas dan menegaskan legalitas menjual bir di Jakarta sudah ada sejak zaman Gubernur Ali Sadikin.Dia lantas menceritakan awal mula pembangunan PT Delta Djakarta.

"Itu zamannya Ali Sadikin kan tahun 1970. Saya juga tidak mengerti apa maksudnya. Begini menurut cerita yang saya dengar, Ali Sadikin butuh menangani beras supaya bisa jaga kebutuhan warga DKI maka dia dan beberapa orang membentuk PT Food Station di Cipinang untuk menjadi gudang beras," jelas Ahok.Lanjut Ahok, perizinan membuka pabrik angker bir oleh Ali Sadikin juga tak lepas dari rencana membangun sekolah dan puskesmas di Cipinang kala itu. Ali Sadikin, cerita Ahok, memberikan izin untuk adanya kasino sejalan dengan mengizinkan pembangunan sekolah dan puskesmas. Kasino tersebut pun mengimpor bir dari Filipina dan Belanda. Tapi muncul kemudian pikiran untuk mendirikan pabrik bir agar tak lagi mengimpor dari luar negeri."Ali Sadikin juga izinkan bangun kasino supaya izinkan juga bangun puskesmas dan sekolah di Cipinang. Mungkin bagian dari itu ada Kasino, maka diimporlah bir dari Filipina atau Belanda. Mungkin pikirannya waktu itu, daripada impor lebih baik undang perusahaan dari Filipina untuk bangun di Cipinang. Akhirnya terbentuklah PT Delta Djakarta ini," tutur Ahok.Bila telah ada di zaman Ali Sadikin, Ahok protes kenapa kini dirinya yang disudutkan. Lagi pula, katanya, banyak orang Indonesia sejujurnya suka menenggak bir."Akhirnya dibentuklah PT ini. Kok tiba-tiba ketika saya jadi gubernurnya, Ahok kok jadi salah semua. Kan banyak orang suka bir. Kan lucu. Tanya saya kenapa, saya juga tidak mengerti," tutup Ahok yang mengklaim dirinya tak menyukai bir.Penjelasan Ahok mungkin ada benarnya. Setelah dilantik pada tahun 1970, betapa kagetnya Bang Ali karena simpanan di kas daerah tak seberapa sementara dia disuruh membangun Jakarta. Dia akhirnya berputar otak bagaimana dengan uang Rp 18 yang tersisa dia bisa membangun Jakarta.Jelas itu tak mudah buat Bang Ali. Apalagi 60 Persen atau sekitar 3 juta penduduk Jakarta tinggal di daerah pemukiman kumuh.Selain itu lebih dari 60 persen anak-anak tidak bersekolah. Masalah keamanan juga mendesak segera dibenahi. Para PNS digaji tidak memadai.Tapi dia tak patah semangat. Bang Ali justru membuat gebrakan. Dia mengadakan lotto/hwa-hwe (semacam judi yang dilegalkan). Dia juga menaikkan pajak balik nama kendaraan bermotor. Bang Ali pun memungut pajak judi untuk kaum Tionghoa. Dia juga melokalisasi para PSK di Kramat Tunggak.Gebrakan Bang Ali langsung mendapat sorotan. Dia dijuluki 'Gubernur Maksiat' dan istrinya dijuluki 'Madame Hwa-Hwe. Bang Ali cuek saja. Mungkin dia berpikir semuanya demi rakyat Jakarta. Lebih aman jika PSK dilokalisir dan perjudian dilegalkan tapi diawasi secara ketat, daripada pura-pura menutup mata sementara PSK dan perjudian menjamur di mana-mana.Tak cuma itu, para tokoh juga sempat memprotesnya. Bang Ali tegas mengatakan bila setuju dipersilakan mereka beraktivitas lewat udara karena sebagian pembangunan di Jakarta saat itu termasuk infrastruktur berasal dari pajak judi. Mendengar ucapan itu mereka lantas terdiam.Tapi itulah Bang Ali, keras kepala dan selalu yakin dengan tindakannya bukan untuk kepentingan sendiri tapi kemakmuran rakyat.

Rekomendasi