Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Pasar Minggu roboh saat hujan deras mengguyur Jakarta pada Sabtu siang (24/9) kemarin. Bagian JPO yang terhempas adalah relling hingga atap. Hanya tersisa lantai dan tangga naik dan turun.Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansah, menyebut salah satu penyebab insiden itu karena adanya papan iklan yang menempel di relling. Posisi dan ukuran iklan dianggap menyalahi aturan.Andri mengatakan, seharusnya pengiklan berkoordinasi dengan pihaknya saat papan reklame akan dipasang. Untuk urusan iklan, tambahnya, ada di bawah naungan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah."Harusnya minta rekomendasi kami, kami analisa bahwa yang bisa dibangun reklame ini ini, lebarnya seperti ini, panjang seperti, ini tidak ada rekomendasi. Dan reklame ini sudah beberapa lama," jelas Andri saat dihubungi merdeka.com, Senin (26/9).Dia yakin kondisi JPO masih layak apalagi baru mendapatkan perawatan pada 2012 dan 2013 lalu. Setiap JPO, tambahnya, memiliki ketahanan sampai 30 tahun."Seperti saya bilang yang paling penting tatkala dia mau mengajukan pemasangan reklame harusnya atas rekomendasi dari kita. Dia juga harus ada tim ahlinya yang memberikan data objektif soal iklan mereka. Kalau memang JPO enggak kuat, jangan rekomendasikan itu, karena JPO tinggi sehingga tekanan anginnya lebih besar," tambahnya.Diakuinya, tidak menutup kemungkinan ada beberapa bagian relling yang besinya keropos. Namun, dia lagi-lagi berdalih sudah melakukan pengecekan secara rutin."Kenyataannya banyak juga JPO yang saat kemarin angin besar enggan rubuh meski ada reklame-nya. Bahkan mungkin usianya lebih dari pembangunan tahun 2002, atau mungkin karena pemasangan reklamenya sesuai aturan," beber Andri.Meski demikian, lanjut dia, berkaca dari kasus tersebut pihaknya segera mengevaluasi seluruh JPO di Jakarta yang jumlahnya lebih kurang 303 buah. Utamanya JPO yang ditempeli papan iklan.
Dishub keluhkan pemilik iklan tak koordinasi pasang reklame di JPO
Dishub keluhkan pemilik iklan tak koordinasi pasang reklame di JPO. "Dia juga harus ada tim ahlinya yang memberikan data objektif soal iklan mereka. Kalau memang JPO enggak kuat, jangan rekomendasikan itu, karena JPO tinggi sehingga tekanan anginnya lebih besar," kata Andri.
Advertisement
Rekomendasi