Jenderal M Jusuf dikenal sebagai Panglima yang berani sekaligus dekat dengan para prajuritnya. Uniknya, Jusuf juga selalu menolak rumahnya dikawal tentara.
Saat masih menjabat berpangkat Brigadir Jenderal dan menjabat Panglima Kodam Hasanuddin, Jusuf menolak rumahnya dijaga. Padahal di awal 1960an wilayah Sulawesi Selatan bergolak karena pemberontakan Kahar Muzakkar dan Andi Selle.
Kontak senjata kerap terjadi antara pihak TNI dan pasukan para panglima perang tersebut. Andi Selle misalnya, memiliki panser dan truk bersenjata. Pengikutnya tak kurang dari 3.000 orang bersenjata lengkap.
Advertisement
Dari Pistol Sampai Sten Gun
Gambaran itu tak membuat Jenderal Jusuf gentar. Dia memilih tidur ditemani pistol terisi peluru di dekat bantalnya, daripada dikawal anak buahnya.
Sang istri, Elly Jusuf mengaku risih juga dengan kebiasaan suaminya. Namun tidur dengan pistol ini sudah lama dilakukan M Jusuf. Hal ini dikisahkan Atmadji Sumakidjo dalam buku Jenderal M Jusuf, Panglima Para Prajurit yang diterbitkan Kata.
Di hari-hari Pasca G30S, Jakarta bergolak usai penculikan para jenderal. Situasi panas di kalangan militer. Belum diketahui dengan jelas siapa lawan dan siapa kawan. M Jusuf pun menambah lagi satu senjata otomatis di kamar tidurnya.
"Dalam masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, Brigjen M Jusuf malah tidur dengan sten gun di dekat tempat tidurnya."
Advertisement
Pengawalan Rahasia Baret Merah
Jenderal Jusuf menjabat Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI tahun 1978 hingga 1983. Rumahnya di jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, tidak punya pos penjagaan.
Tentara yang berjaga terpaksa tidur dan melihat-lihat dari garasi mobil saja. Keluarga risih karena selama puluhan tahun tidak pernah dikawal, kini tiba-tiba harus dijaga selama 24 jam.
Tak cuma itu, diam-diam Mayjen Benny Moerdani menugaskan satu kelompok prajurit pilihan dari Korps Baret Merah. Mereka bertugas mengawal Pak Jusuf kemana pun pergi.
Mereka tidak menggunakan seragam dan kehadirannya pun tak mencolok.