Tim penyelamat China harus berjibaku menembus lereng terjal pegunungan untuk mencari korban selamat dari pesawat China Eastern Airlines yang kemarin jatuh di sebelah selatan Guangxi.
Puing-puing pesawat Boeing 737-800 bertebaran di lereng gunung yang terbakar setelah burung besi itu jatuh. Sisa-sisa kartu identitas yang terbakar, tas, dompet juga terlihat, kata laporan media pemerintah China, seperti dilansir laman Al Arabiya, Selasa (22/3). Ini adalah kecelakaan pesawat pertama setelah yang terakhir pada 2010.
Pesawat dengan nomor penerbangan MU5735 itu lepas landas dari Kota Kunming, Provinsi Yunnan menuju Guangzhou di Provinsi Guangdong yang berbatasan dengan Hong Kong. Pesawat itu tiba-tiba menukik jatuh dari ketinggian yang sebetulnya sudah hendak mendarat.
Media China memperlihatkan cuplikan dari sebuah kamera mobil yang menampilkan gambar pesawat jet itu menukik di balik pepohonan dengan sudut sekitar 35 derajat vertikal. Reuters tidak bisa memverifikasi video tersebut.
"Pesawat itu jatuh vertikal dari langit," kata media pemerintah Beijing Youth Daily mengutip warga lokal.
"Meski saya berada jauh, saya masih melihat itu pesawat. Pesawat itu tidak mengeluarkan asap ketika jatuh. Pesawat menabrak gunung dan menimbulkan kebakaran."
Lu, 64, warga desa dekat lokasi jatuhnya pesawat mengatakan dia mendengar suara ledakan ketika pesawat itu jatuh. "Suaranya seperti petir!" kata dia.
Media pemerintah mengatakan situasi saat ini sangat "genting" dan ada kemungkinan seluruh penumpang tewas.
Tim dari otoritas penerbangan China dikerahkan ke lokasi bersama tim penyelamat dan paramiliter.
Wakil Perdana Menteri Liu He meninggalkan Kota Wuzhou di Guangxi pada Senin malam untuk meninjau langsung upaya penyelamatan dan penyelidikan setelah rapat darurat kabinet.
Media pemerintah menyebut lokasi jatuhnya pesawat dikelilingi tiga sisi gunung dengan akses hanya jalan setapak kecil. Pantauan cuaca menyatakan hujan akan terjadi di lokasi sepanjang pekan ini.
Pihak berwenang melarang jurnalis dan warga mendekati lokasi dan mengamankan jalan untuk kendaraan tim penyelamat.
Pengamat penerbangan di Amerika Serikat Robert Mann mengatakan para penyelidik akan membutuhkan data rekaman penerbangan untuk memahami apa yang menyebabkan pesawat itu tiba-tiba menurun seperti yang terlacak oleh data Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B).
"Kecelakaan yang bermula dari suatu ketinggian biasanya disebabkan oleh cuaca, sabotase, atau kesalahan pilot," kata Dan Elwell, mantan kepala Badan Penerbangan Federal kepada Reuters.
Kecelakaan terakhir dari pesawat komersil di China terjadi pada 2010 ketika Embraer E-190 dari maskapai Henan Airlines jatuh, menewaskan 44 dari 96 penumpang.