Seperti Zohri, tak harus menjadi diplomat untuk dapat berdiplomasi di kancah dunia

'Seperti Zohri, tak harus menjadi diplomat untuk dapat berdiplomasi di kancah dunia'. Di hadapan ratusan anak muda di Bandung, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pentingnya anak muda mempunyai spirit berdiplomasi.

Farah Fuadona
Oleh Farah Fuadona - Reporter
Seperti Zohri, tak harus menjadi diplomat untuk dapat berdiplomasi di kancah dunia
Zohri. ©2018 istimewa

Di hadapan ratusan anak muda di Bandung, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pentingnya anak muda mempunyai spirit berdiplomasi. Hal ini untuk meningkatkan rasa kebersamaan dengan sesama.

"Banyak orang berpikir bahwa diplomat itu ada di awang-awang. Pekerjaan kami sebenarnya dia saling menjembatani komunikasi dengan dua pihak, " ujar Retno di Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung, Minggu (14/7).

Ia pun menceritakan saat Indonesia berjuang untuk menjadi anggota tidak tetap DK PBB. " Perlu waktu dua tahun untuk diplomat Indonesia berkampanye. Tentu agar bisa terpilih rekam jejak Indonesia dilihat. Itu yang kita jual rekam jejak Indonesia dalam penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955," kata Retno.

Retno mengatakan pengalaman itu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang patut diperhitungkan. Apalagi Indonesia adalah negara dengan populasi keempat terbesar di dunia, mayoritas beragam Islam namun memiliki toleransi yang cukup tinggi. Hal itulah yang menjadi aspek Indonesia memperoleh 144 suara dari 190 negara anggota PBB.

"Gak harus menjadi diplomat untuk dapat berdiplomasi di kancah dunia. Contoh yang paling baru, yakni Lalu Muhammad Zohri ia mampu mengharumkan nama Indonesia melalui kejuaraan dunia sebagai atlet lari. Banyak cara, banyak bidang profesi yang dapat mengantarkan kita, " jelasnya di hadapan Komunitas Sahabat Museum Asia Afrika.

Terakhir Retno berpesan agar pemuda Indonesia tetap menjaga nilai-nilai yang disebutkannya tadi.

Rekomendasi