Izin 262 Pilot di Pakistan Ketahuan Palsu, Tak Punya Kualifikasi Terbang

Lebih dari 30 persen pilot sipil di Pakistan memiliki izin abal-abal atau palsu dan tidak memenuhi kualifikasi untuk terbang. Hal ini diungkapkan Menteri Penerbangan Pakistan, Ghulam Sarwar Khan pada Rabu.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Izin 262 Pilot di Pakistan Ketahuan Palsu, Tak Punya Kualifikasi Terbang
Ilustrasi Pilot. ©shutterstock.com

Lebih dari 30 persen pilot sipil di Pakistan memiliki izin abal-abal atau palsu dan tidak memenuhi kualifikasi untuk terbang. Hal ini diungkapkan Menteri Penerbangan Pakistan, Ghulam Sarwar Khan pada Rabu.

Saat berpidato dalam Sidang Nasional Pakistan, Khan mengatakan 262 pilot di negaranya tak pernah ikut ujian dan membayar seseorang sebagai joki.

"Mereka tak punya pengalaman terbang," ungkapnya, dilansir dari CNN, Jumat (26/6)

Khan menyampaikan, Pakistan memiliki 860 pilot aktif di sejumlah maskapai yang melayani penerbangan domestik - termasuk di maskapai Pakistan International Airlines (PIA) yang merupakan BUMN -- dan juga di maskapai asing.

PIA segera memberhentikan para pilotnya yang memiliki lisensi palsu.

"PIA mengakui izin palsu bukan hanya masalah PIA tapi di semua industri maskapai seluruh Pakistan," kata juru bicara PIA, Abdullah Khan, seraya menambahkan beberapa pilot abal-abal juga bekerja untuk maskapai asing.

Insiden Pesawat PIA Jatuh

Hasil investigasi jatuhnya pesawat PIA pada 22 Mei lalu di Karachi diumumkan pada Rabu sebagai bagian laporan awal atas kecelakaan yang menewaskan 97 orang tersebut. Pesawat PIA jatuh setelah terbang dari Lahore menuju Karachi.

Khan tak menjelaskan apakah dua pilot dalam penerbangan PK 8303 itu memegang izin palsu.

Menurut laporan investigasi, pilot tengah mengobrol soal virus corona dan berulang kali mengabaikan peringatan dari ATC sebelum pesawat jatuh ke permukiman penduduk dekat bandara Karachi.

"Pilotnya mendiskusikan corona selama penerbangan. Mereka tidak fokus. Mereka membicarakan virus corona dan bagaimana keluarga mereka terdampak," jelas Khan, menambahkan para pilot sangat percaya diri.

Khan mengatakan, pilot diinformasikan tiga kali oleh petugas ATC bahwa pesawat mereka terbang terlalu tinggi dan tak seharusnya mencoba mendarat, tapi kapten pesawat tidak memperhatikan instruksi tersebut.

Pilot melanjutkan dengan mencoba mendarat tanpa menurunkan roda pendaratan.

"Pesawat menyentuh permukaan landasan di mesinnya," kata laporan itu. Mesin terkena landasan pacu, menyebabkan percikan api dan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.

Pilot menarik pesawat kembali ke udara, tetapi mesin yang rusak membuatnya gagal dan menyebabkan pesawat jatuh, menurut laporan itu.

Rekomendasi