Iran akan ambil sikap tegas jika AS langgar perjanjian JCPOA

Rouhani menjelaskan bahwa landasan Tehran dalam perjanjian nuklir Iran dengan Kelompok 5+1 (JCPOA) adalah kepercayaan dan melangkah maju dengan pengawasan dan verifikasi langkah demi langkah dan dengan pemantauan ketat.

Farah Fuadona
Oleh Farah Fuadona - Reporter
Iran akan ambil sikap tegas jika AS langgar perjanjian JCPOA
Reaktor nuklir Iran. ©2018 Merdeka.com

Mantan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Hamid Reza Asefi mengatakan, tidak ada alasan bagi Iran untuk tetap berkomitmen pada kesepakatan kerja sama dengan badan pengawas nuklir. Jika AS melanggar kesepakatan dan meninggalkannya, seperti dikutip dari Kantor Berita Republik Islam (IRNA), Minggu (8/4).

Donald Trump, sejak menjabat sebagai Presiden AS telah mengadopsi sikap kontradiktif pada berbagai isu global, kata Asefi, menambahkan bahwa perubahan dalam tim Trump dan munculnya orang-orang radikal di kabinetnya membuktikan pelanggaran dalam Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) terkait nuklir Iran.

JCPOA adalah hasil dari interaksi Iran dengan enam kekuatan dunia yaitu, lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB (Amerika Serikat, Inggris, China, Rusia, dan Perancis) ditambah Jerman.Perjanjian itu dibuat karena Iran mempunyai rencana untuk meningkatkan pengayaan uraniumnya dan terindikasi akan mengalihfungsikan teknologi nuklirnya untuk kebutuhan militer. Serta menghambat kegiatan inspeksi yang dilakukan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) dalam melakukan pengecekan berkala terhadap PLTN yang Iran miliki.

Amerika Serikat sebagai salah satu pihak yang terlibat, berkomitmen untuk membatalkan sanksi terhadap Iran berdasarkan resolusi 2231 Dewan Keamanan dan meninggalkan setiap tindakan yang menghalangi kegiatan ekonomi atau investasi di Iran dengan alasan apapun. Pasal 26, 28, dan 29 JCPOA menegaskan komitmen-komitmen tersebut.

Asefi yang juga mantan Duta Besar Iran untuk Paris, mengacu pada perkembangan global mengenai JCPOA yang mengatakan kanselir Jerman dan presiden Perancis akan melakukan perjalanan ke AS untuk menegosiasikan kesepakatan Iran.

Asefi mengatakan ini menunjukkan bahwa orang Eropa bekerja pada level yang berbeda untuk menyelamatkan JCPOA.

Ia juga menilai jika Trump ingin bernegosiasi mengenai kesepakatan nuklir dengan Pyongyang, namun menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran. Negosiasi (dengan Korea Utara) tentu akan jadi sebuah pertanyaan besar.

"Jika Trump memiliki pikiran metodis, dia tidak akan pernah berpikir tentang menarik diri dari kesepakatan yang dibuat pada 2015 lalu itu," ujar Asefi menekankan.

Ketika ditanya tentang sikap apa yang akan diambil Iran jika hal itu sampai terjadi, Asefi mengatakan Teheran akan membuat keputusan pada 'tingkat tertinggi' tetap tinggal atau meninggalkan kesepakatan. Seraya menambahkan bahwa AS akan jadi pecundang jika sampai meninggalkan kesepakatan.

Pekan lalu Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani mengatakan, "Dunia telah mengakui status damai program nuklir Iran, di mana kerja sama dengan Tehran di bidang teknologi nuklir telah dimulai," ujarnya dikutip dari Pars Today.

Pada kesempatan itu, Rouhani menjelaskan bahwa landasan Tehran dalam perjanjian nuklir Iran dengan Kelompok 5+1 (JCPOA) adalah kepercayaan dan melangkah maju dengan pengawasan dan verifikasi langkah demi langkah dan dengan pemantauan ketat.

"Iran adalah sebuah negara yang membela hak-haknya, ia akan membela hak-haknya dengan perangkat lunak dan perangkat keras di tempat yang diperlukan," kata dia.

Rekomendasi