Indonesia sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Arab Saudi sejak 60 tahun lalu. Kini hubungan kedua negara di bidang pendidikan, keagamaan, dam ekonomi memasuki babak baru.Saat Indonesia merdeka pada 1945 Raja Saudi Abdul Aziz mengumumkan kabar gembira itu kepada jamaah musim haji internasional. Saudi menjadi salah satu negara yang membuka kedutaan di Indonesia pada 1948. Baru kemudian pada 1955 Kerajaan Saudi membuka kedubes resmi di Jakarta dan Indonesia juga saat itu membuka Kedubes di Saudi.Menurut Duta Besar Saudi di Indonesia Musthafa Ibrahim Al-Mubarak banyak warga Saudi berkunjung ke Indonesia untuk berwisata, bisnis, atau silaturahim. Banyak warga Indonesia dan Saudi yang melakukan hubungan persaudaraan, termasuk ribuan masyarakat Indonesia yang tinggal di Saudi dan jadi warga Saudi.Sejumlah janji disampaikan Dubes Saudi kepada Indonesia untuk meningkatkan hubungan kedua negara. Apa saja janji-janji itu? Ikuti ulasannya berikut ini.
Advertisement
Saudi janji kuota haji Indonesia tahun depan ditambah
Selama beberapa tahun terakhir, jumlah kuota haji Indonesia yang mencapai 211 ribu orang dipangkas 20 persen hingga tinggal mencapai 168,5 ribu saja. Hal ini dilakukan lantaran Arab Saudi sedang melakukan perluasan Masjidil Haram.Namun ada kabar gembira bagi masyarakat Indonesia yang sudah sekian lama antre untuk menjalankan rukun Islam kelima tersebut. Mulai tahun depan, kuota haji Indonesia akan dikembalikan lagi ke jumlah semula. "Tahun ini merupakan pengurangan terakhir ibadah haji, insya Allah 2016 jumlah haji Indonesia kembali sekitar 211 ribu, seperti semula," demikian kata Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia, Musthafa Ibrahim Al-Mubarak dalam wawancara khusus dengan merdeka.com di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (6/7) kemarin.Namun demikian, Musthafa meminta kepada masyarakat Indonesia menyadari bahwa Masjidil Haram dan tempat-tempat rukun ibadah haji lainnya memiliki keterbatasan. Sehingga tidak bisa menampung sebanyak-banyaknya jamaah yang ingin melakukan ibadah haji."Karena Masjidil Haram merupakan bagian dari manasik haji, perlu disadari oleh masyarakat Indonesia, kapasitas Masjidil Haram terbatas, mengingat keterbatasan Masjidil Haram yang merupakan bagian dari rukun haji," imbau Musthafa.Pengurangan kuota haji sebelumnya juga semata-mata dimaksudkan untuk memberi rasa aman dan nyaman bagi para jamaah haji. Karena kalau berdesak-desakan, akan membahayakan keselamatan para jamaah. "Mina kapasitasnya juga tidak mumpuni lagi, jadi kita tidak serta merta menambah. Kita mengurangi kuota haji sebelumnya juga untuk keselamatan dan keamanan haji itu sendiri, karena kita sangat mementingkan keselamatan dan keamanan ibadah haji. Pengurangan kuota itu juga bagian dari peningkatan keamanan dan keselamatan haji," imbuhnya.
Advertisement
Perluasan Masjidil Haram selesai tahun ini, kuota jamaah haji Indonesia ditambah
Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Musthafa Ibrahim Al-Mubarak mengatakan, perluasan Masjidil Haram sudah selesai tahun ini.
"Berkaitan dengan Masjidil Haram, ini merupakan untuk pengurangan terakhir ibadah haji, insya Allah 2016 jumlah haji Indonesia kembali sekitar 211 ribu, seperti semula, dan kita akan pertimbangkan adanya pertambahan kuota sesuai dengan jumlah penambahan penduduk di Indonesia," kata dia.
Tapi ada yang belum selesai yakni tempat tawaf. "Berkaitan dengan tempat tawaf belum selesai membutuhkan waktu lama, harus ada pengurangan 40 persen. Oleh karena itu kalau ini selesai, bisa menampung 105 ribu yang melakukan tawaf per jamnya, sebelumnya 48 ribu, kalau sudah jadi jadi 105 ribu," kata Mubarak.
Namun dia berjanji pada tahun depan semua proses pembangunan termasuk perluasan tempat tawaf akan selesai."Ini komitmen almarhum Raja Abdullah, ini impian beliau melakukan perluasan Masjidil Haram dan tempat tawaf. Dua tempat ini merupakan perluasan yang sangat bersejarah dan sangat lux, dan istimewa, juga dilakukan dengan kehati-hatian dan detil sekali sehingga memungkinkan desain yang sangat indah, cocok dan layak untuk Masjidil Haram dan Nabawi," tutupnya.
Advertisement
Beri beasiswa bagi mahasiswi Indonesia
Arab Saudi selama ini memberikan sekitar 200 beasiswa saban tahun kepada mahasiswa Indonesia. Kebanyakan mereka belajar di Universitas Islam Madinah. Selain itu ada 250 siswa Indonesia di berbagai disiplin ilmu di seluruh universitas dan jurusan.
"Ini tidak fokus S1 saja, tapi S2 dan S3. Ada rencana juga untuk peningkatan pemberian beasiswa dalam waktu yang akan datang kepada para mahasiswi. Ada rencana memberikan beasiswa untuk mahasiswi di masa-masa yang akan datang, ada Universitas Pricess Noura, khusus untuk mahasiswi. Ini bisa menampung mahasiswi Indonesia untuk belajar yang termasuk 250 orang itu," kata Duta Besar Arab Saudi Musthafa Ibrahim Al-Mubarak kepada merdeka.com, dua hari lalu.
Mubarak menyampaikan Kearajaan Saudi tidak menerima program penerimaan siswa tanpa beasiswa.
"Untuk Saudi, kita hanya memberi kesempatan bagi mereka yang dapat beasiswa dan tidak memberi kesempatan untuk yang tidak menggunakan beasiswa. Tapi kalau domisili, misalnya orang tuanya kerja di sana, memang diberi kesempatan belajar di perguruan tinggi Saudi. Keputusan ini memang dikhususkan, Saudi memiliki kekhususan. Saudi adalah tempat 2 kota suci, Saudi sangat memberi perhatian sekali terhadap kuota dan mempertimbangkan sekali kuota," kata dia.Menurut dia kalau memang kesempatan ini (kuliah tanpa beasiswa) dibuka maka akan membuka kesempatan umat Islam di seluruh dunia, karena memang mereka sangat mencintai Mekkah dan Madinah. Bagi mereka yang mampu mereka akan berbondong-bondong ke Arab Saudi, dan bisa jadi Makkah dan Madinah saat itu tidak bisa menampung banyaknya orang yang datang.
Advertisement
Raja Saudi keluarkan dekrit penangguhan hukuman pancung bagi TKI
Kontroversi seputar notifikasi eksekusi mati Tenaga Kerja Indonesia (TKI), Siti Zaenab binti Duhri Rupa pada April lalu mengundang polemik banyak pihak. Seringnya TKI mendapat perlakuan tidak wajar membuat mereka melakukan tindak kriminal dan berujung pada hukuman mati.Ketika ditanyai seputar solusi terhadap pertolongan kepada mereka agar terlepas dari jerat hukuman mati, Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Musthafa Ibrahim Al-Mubarak mengatakan, kini Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz mengeluarkan sebuah dekrit seputar penambahan waktu untuk permintaan maaf kepada keluarga korban. Hal itu agar memberi kesempatan tersangka terbebas dari hukuman qisas (hukuman pancung)."Maka dari penambahan waktu ini lah bisa terjadi negosiasi permintaan maaf lebih panjang, intervensi dalam memberi jeda waktu, untuk memberi kesempatan keluarga korban memaafkan," ucap Dubes Musthafa ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Senin, (6/7)."Pernah ada suatu kasus pekerja domestik yang divonis hukuman mati, namun karena dekrit baru raja dan desakan dubes Saudi maka Alhamdulillah pekerja domestik ini terlepas dari hukuman mati," tutupnya.