Benjamin Netanyahu: Israel Tolak Tekanan untuk Tidak Membangun di Yerusalem

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan Israel “dengan tegas” tekanan untuk tidak membangun di Yerusalem, menyusul kerusuhan dan meningkatnya kecaman internasional terkait rencana pengusiran rakyat Palestina dari rumahnya di kota yang diklaim oleh pemukim Yahudi ilegal.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Benjamin Netanyahu: Israel Tolak Tekanan untuk Tidak Membangun di Yerusalem
Ketegangan warga Palestina dan pemukim Yahudi Israel di Sheikh Jarrah. ©REUTERS/Ammar Awad

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan Israel “dengan tegas” tekanan untuk tidak membangun di Yerusalem, menyusul kerusuhan dan meningkatnya kecaman internasional terkait rencana pengusiran rakyat Palestina dari rumahnya di kota yang diklaim oleh pemukim Yahudi ilegal.

Pernyataan Netanyahu ini dilontarkan pada Minggu saat kementerian kehakiman Israel menyampaikan pihaknya menunda sidang utama pada Senin terkait kasus penduduk Palestina di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur yang diduduki.

“Mempertimbangkan keadaan saat ini dan atas permintaan jaksa agung, sidang reguler untuk besok, 10 Mei 2021 dibatalkan,” jelasnya dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan sidang baru akan dijadwalkan dalam waktu 30 hari.

Ketegangan di lingkungan Sheikh Jarrah mendorong konfrontasi setiap hari dalam beberapa hari terakhir.

“Kami dengan tegas menolak tekanan untuk tidak membangun di Yerusalem. Yang saya sesali, meningkatnya tekanan ini terlambat,” kata Netanyahu dalam pidato yang disiarkan televisi sebelum peringatan nasional pencaplokan Israel atas Yerusalem Timur dalam perang 1967, dikutip dari Al Jazeera, Senin (10/5).

“Saya juga mengatakan yang terbaik kepada kawan baik kami: Yerusalem adalah ibu kota Israel dan sama seperti setiap negara membangun di ibu kotanya dan membangun ibu kotanya, kami juga punya hak untuk membangun di Yerusalem dan membangun Yerusalem. Ini merupakan apa yang telah kami lakukan dan ini adalah apa yang akan terus kamu lakukan,” lanjutnya.
Petugas medis Palestina mengatakan sedikitnya 90 orang terluka pada Sabtu setelah polisi Israel menyerang pengunjuk rasa Palestina di luar Kota Tua Yerusalem Timur yang diduduki.

Penyerangan itu terjadi saat sekitar 90.000 jemaah Muslim salat di Masjid Al-Aqsa pada malam Lailatul Qadar.

Kekerasan terjadi setelah pasukan Israel menyerbu Al-Aqsa dan melukai lebih dari 200 warga Palestina pada Jumat malam. Pasukan Israel mengklaim 17 petugasnya terluka selama dua hari terakhir.

Netanyahu mengatakan Israel mengizinkan kebebasan beribadah tapi “kami tidak akan mengizinkan unsur ekstremis mengganggu kedamaian di Yerusalem. Kami tidak akan mengizinkan kekerasan besar.”

“Kami tidak melihat cahaya di ujung terowongan karena tidak ada terowongan karena tidak ada proses perdamaian,” kata seorang jurnalis dan penulis Israel, Akiva Eldar, kepada Al Jazeera.

“Yerusalem Timur diduduki, itu bukan kedaulatan Israel di Yerusalem Timur, itu belum diakui oleh komunitas internasional jadi kami sedang duduk di atas sebuah gunung api.”

Terpisah, kepolisian Israel pada Minggu mengizinkan berlangsungnya parade tahunan Hari Yerusalem. Sekitar 30.000 pemukim Yahudi diperkirakan ikut parade tersebut yang berjalan menuju Gerbang Damaskus di Kota Tua pada Senin.

Mantan pejabat militer senior, Amos Gilad, menyampaikan kepada Army Radio, parade itu harus dibatalkan atau diubah rutenya jauh dari Gerbang Damakus Kota Tua karena bisa memicu ketegangan baru.

Paus Fransiskus menyerukan diakhirinya kekerasan di Yerusalem, mengatakan dia memantau insiden tersebut dengan kekhawatiran dan mengundang semua pihak untuk mencari solusi dalam rangka menghormati identitas multikultural di Kota Suci tersebut.

“Kekerasan melahirkan kekerasan, hentikan bentrokan,” kata Paus kepada peziarah yang berkumpul di Alun-Alun St Peter, Roma, pada Minggu.

Rekomendasi